Instrumen Hukum HAM Internasional

Instrumen Hukum HAM Internasional

Instrumen Hukum HAM Internasional
Instrumen Hukum HAM Internasional

Pelaksanaan perlindungan HAM di berbagai negara dilakukan dengan
mengacu pada berbagai instrumen HAM internasional. Beberapa instrumen
hukum HAM internasional itu adalah sebagai berikut.

a. Hukum kebiasaan

Hukum kebiasaan merupakan hukum yang diterima melalui praktik umum.
Dalam menyelesaikan berbagai sengketa intemasional, hukum kebiasaan
merupakan salah satu sumber hukum yang digunakan oleh Mahkamah
Internasional. Hukum kebiasaan internasional mengenai HAM, antara lain,
terdiri dari larangan penyiksaan, larangan diskriminasi, larangan pembantaian
massal, larangan perbudakan dan perdagangan manusia, dan larangan
terhadap berbagai tindakan pembunuhan dan sewenang-wenang.

b. Piagam PBB

Dalam piagam PBB terdapat ketentuan mengenai HAM, di antaranya,
sebagai berikut.
1) Pasal 55 menyatakan: “… Perserikatan Bangsa-Bangsa akan
menggalakkan (a) standar hidup yang lebih tinggi, pekerjaan penuh,
kemajuan ekonomi, dan kemajuan serta perkembangan sosial; (b)
pemecahan masalah-masalah ekonomi, sosial, dan kesehatan
internasional dan masalah-masalah terkait lainnya; budaya internasional
dan kerja sama pendidikan; dan (c) penghormatan universal dan
pematuhan hak-hak asasi dan kebebasan dasar manusia bagi semua
tanpa pembedaan ras, jenis kelamin, bahasa, dan agama”.
2) Pasal 1 menyatakan: “Tujuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah
untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional … dan
menggalakkan serta meningkatkan penghormatan bagi hak asasi manusia
dan kebebasan fundamental bagi semua orang tanpa pembedaan ras,
jenis kelamin, bahasa, maupun agama …”.
3) Pasal 56 menyatakan: “Semua anggota berjanji kepada diri mereka sendiri
untuk melakukan tindakan secara bersama atau sendiri-sendiri dalam
bekerja sama dengan organisasi untuk pencapaian tujuan yang ditetapkan
dalam Pasal 55”.

c. The International Bill of Human Rights

The International Bill of Human Rights merupakan istilah yang digunakan
dalam pemilihan tiga instrumen utama HAM beserta dengan protokol opsinya.
Ketiga instrumen utama yang dimaksud tersebut meliputi: (a) Kovenan
Internasional mengenai Hak-Hak Sipil dan Politik (The International
Covenant on Civil and Political Rights/ICCPR); (b) Pernyataan Sedunia
mengenai Hak Asasi Manusia (The Universal Declaration of Human Rights/
UDHR); (c) Kovenan Internasional mengenai Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan
Budaya (The International Covenant on Economic, Social, and Cultural
Rights/ICESCR); (d) protokol opsi pertama pada ICCPR yang kini berubah
menjadi UDHR merupakan instrumen HAM terpenting. Semua instrumen
internasional HAM dan konstitusi di berbagai negara merujuk pada UDHR.

d. Traktat-traktat pada bidang khusus HAM

Dalam bidang-bidang tertentu yang berkenaan dengan HAM, ada
berbagai traktat khusus yang mempunyai kekuatan mengikat bagi negaranegara
pesertanya. Adapun traktat-traktat khusus yang terpenting adalah
Konvensi tentang Status Pengungsi, Konvensi tentang Pencegahan dan
Penghukuman Kejahatan Genosida, Konvensi mengenai Penghapusan Segala
Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, Perlakuan dan Penghukuman Hak
Manusiawi atau yang Merendahkan Martabat, Konvensi mengenai Hak-Hak
Anak, Protokol mengenai Status Pengungsi, Konvensi Internasional mengenai
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Ras, Konvensi mengenai
Penyiksaan dan Kekejaman Lainnya, dan Konvensi mengenai Protokol Opsi
pada ICCPR yang bertujuan menghapus hukuman mati.
PBB membentuk organ pelengkap untuk lebih mengefektifkan
implementasi berbagai ketentuan mengenai HAM tersebut, di antaranya, yaitu
Komisi Hak Asasi Manusia (The Commission on Human Rights/CHR).
Badan ini melakukan studi, mempersiapkan berbagai rancangan konvensi
dan deklarasi, melaksanakan misi pencarian fakta, membahas berbagai
pelanggaran HAM dalam sidang-sidang umum atau khusus PBB, serta
memperbaiki prosedur penanganan HAM. Untuk memantau pelaksanaan
traktat-traktat khusus di tiap-tiap negara peserta traktat, telah dibentuk enam
komite. Keenam komite tersebut adalah
1) Committee on the Rights of Child, mengawasi pelaksanaan Convention
on the Rights of the Childs (CRC);
2) Committee on the Elimination of Discrimination against Woman,
mengawasi pelaksanaan Convention on the Elimination of All Forms
of Discrimination against Woman (CEDAW);
3) ICCPR Human Rights Committee, mengawasi pelaksanaan
International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR);
4) Committee Against Torture, mengawasi pelaksanaan Convention
Against Torture and Other Cruel, Inhuman, or Degrading Treatment
or Punishment (CAT);
5) Committee on Economic, Social, and Cultural Rights, mengawasi
pelaksanaan International Covenant on Economic, Social, and
Cultural Rights (CESCR);
6) Committee on the Elimination of Racial Discrimination, mengawasi
pelaksanaan International Covenantion on the Elimination of All
Forms of Racial Discrimination (CERD).
e. Konvensi internasional tentang HAM
Konvensi internasional tentang hak asasi manusia merupakan wujud nyata
kepedulian masyarakat internasional akan penegakan, perlindungan,
pengakuan, dan pemajuan hak asasi manusia. Beberapa konvensi yang
berhasil diciptakan, di antaranya, sebagai berikut.
1) Universal Declaration of Human Rights (Pernyataan Hak Asasi
Manusia Sedunia)
Sidang Umum PBB tanggal 10 Desember 1948 menghasilkan deklarasi
yang dapat dikatakan sebagai pernyataan pertama dari masyarakat
internasional tentang perlunya pengakuan dan jaminan akan hak asasi manusia
ini. Deklarasi ini memang tidak mengikat negara anggota secara hukum, tetapi
paling tidak sudah menunjukkan komitmen bersama dan sebagai seruan moral
bagi bangsa-bangsa untuk menegakkan hak asasi manusia. Hak-hak yang
diperjuangkan masih terbatas pada hak ekonomi, politik, sipil, dan sosial.
Piagam ini merupakan hasil kompromi antara negara Barat yang
memperjuangkan hak-hak generasi pertama dengan negara-negara sosialis
(Timur) yang memperjuangkan hak-hak generasi kedua.
2) International Convenant of Civil and Political Rights (Perjanjian
Internasional tentang Hak Sipil dan Politik) dan International
Convenant of Economic, Social, and Cultural Rights (Perjanjian
Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) tahun
1966
Secara aklamasi, kedua convenant (perjanjian) ini disetujui oleh negaranegara
anggota PBB. Kedua perjanjian ini lebih bersifat mengikat bagi negara
dalam memperoleh kesempatan untuk memilih salah satu atau kedua-duanya.
Negara yang menginginkan isi perjanjian ini berlaku di negaranya harus
melakukan proses ratifikasi terlebih dahulu. Hak-hak asasi manusia yang
tercantum di dalam dua perjanjian PBB ini oleh sebagian besar umat manusia
dianggap sudah bersifat universal.
3) Declaration on The Rights of Peoples to Peace (Deklarasi Hak
Bangsa atas Perdamaian) tahun 1984 dan Declaration on The Rights
to Development (Deklarasi Hak atas Pembangunan) tahun 1986
Kedua deklarasi ini dihasilkan oleh negara-negara Dunia Ketiga (negara
berkembang), yaitu negara-negara di kawasan Asia-Afrika. Deklarasi ini
adalah wujud upaya negara-negara Dunia Ketiga guna memperjuangkan hak
asasi manusia generasi ketiga, yaitu hak atas perdamaian serta pembangunan.
Dua tuntutan hak ini wajar karena negara-negara Asia Afrika ialah negara
bekas jajahan, negara baru yang menginginkan kemajuan seperti negara lain.
4) African Charter on Human and Peoples Rights (Banjul Charter)
Piagam ini dibuat oleh negara-negara Afrika yang tergabung dalam
Persatuan Afrika (OAU) pada tahun 1981. Charter (piagam) ini merupakan
usaha untuk merumuskan ciri khas bangsa Afrika dan menggabungkannya
dengan hak politik dan ekonomi yang tercantum dalam dua perjanjian PBB.
Mulai tahun 1987, diberlakukan beberapa hal penting yang mencakup hak
dan kebebasan serta kewajiban. Inti dari Banjul Charter adalah penekanan
pada hak-hak atas pembangunan dan terpenuhinya hak ekonomi, sosial, dan
budaya yang merupakan jaminan untuk memenuhi hak politik.
5) Cairo Declaration on Human Rights in Islam
Deklarasi ini dibuat oleh negara-negara anggota OKI pada tahun 1990.
Deklarasi ini menyatakan bahwa semua hak dan kebebasan yang terumuskan
di dalamnya tunduk pada ketentuan Syariat Islam sebagai satu-satunya acuan.
6) Bangkok Declaration
Deklarasi Bangkok diterima oleh negara-negara Asia pada bulan April
tahun 1993. Dalam deklarasi ini tercermin keinginan dan kepentingan negaranegara
di kawasan itu. Deklarasi ini mempertegas beberapa prinsip tentang
hak asasi manusia, antara lain,
a) right to Development, yaitu hak pembangunan sebagai hak asasi yang
harus pula diakui semua negara;
b) nonselectivity dan objectivity, yaitu tidak boleh memilih hak asasi
manusia dan menganggap satu lebih penting dari yang lain;
c) universality, yaitu HAM berlaku universal untuk semua manusia tanpa
membedakan ras, agama, kelompok, etnik, dan kedudukan sosial;
d) indivisibility dan interdependence, yaitu hak asasi manusia tidak boleh
dibagi-bagi atau dipilah-pilah. Semua hak asasi manusia saling
berhubungan dan tergantung satu sama lainnya.
7) Vienna Declaration (Deklarasi Wina) 1993
Pada tahun 1993, telah ditandatangani suatu deklarasi di Wina, Austria.
Deklarasi ini merupakan deklarasi universal dari negara-negara yang
tergabung dalam PBB. Deklarasi Wina merupakan kompromi antara
pandangan negara-negara Barat dan negara-negara berkembang yang
disetujui oleh lebih dari 170 negara. Deklarasi tersebut memunculkan apa
yang dinamakan sebagai hak asasi generasi ketiga, yaitu hak pembangunan.
Pada hakikatnya, Deklarasi Wina merupakan reevaluasi kedua terhadap
deklarasi HAM dan suatu penyesuaian yang telah disetujui oleh hampir semua
negara yang tergabung dalam PBB, termasuk Indonesia. Deklarasi Wina
mencerminkan usaha untuk menjembatani jurang antara pemikiran Barat dan
non-Barat dengan berpegang teguh pada asas bahwa hak asasi bersifat universal.

Sumber: https://sel.co.id/

4 Pokok Pikiran Pembukaan UUD 1945

4 Pokok Pikiran Pembukaan UUD 1945

4 Pokok Pikiran Pembukaan UUD 1945
4 Pokok Pikiran Pembukaan UUD 1945

Pokok pikiran Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945
Pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945 meliputi suasana
kebatinan dari UUD Negara Indonesia. Pokok-pokok pikiran ini mewujudkan
cita-cita hukum (rechtsidee) yang menguasai hukum dasar negara, baik hukum
tertulis (undang-undang) maupun hukum yang tidak tertulis. Pokok-pokok pikiran
dalam Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut.

a. Pokok pikiran I

“Negara”, begitu bunyinya, yang melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia dengan berdasarkan atas
persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia. Kalimat tersebut
mengandung pengertian negara persatuan, negara
yang melindungi dan meliputi segenap bangsa
seluruhnya. Jadi, negara mengatasi segala paham
golongan, mengatasi segala paham perseorangan.
Negara, menurut pengertian Pembukaan UUD
1945 itu, menghendaki persatuan meliputi segenap
bangsa Indonesia seluruhnya. Inilah suatu dasar
negara yang tidak boleh dilupakan.

b. Pokok pikiran II

Negara hendak mewujudkan keadilan sosial
bagi seluruh rakyat. Dalam pokok pikiran kedua ini, negara hendak
mewujudkan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Negara memiliki kewajiban kepada seluruh rakyat Indonesia untuk
mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat.

c. Pokok pikiran III

Pokok yang ketiga yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 ialah
negara yang berkedaulatan rakyat berdasarkan atas kerakyatan dan
pemusyawaratan/perwakilan. Artinya, sistem negara yang terbentuk dalam
undang-undang dasar harus berdasar atas kedaulatan rakyat dan berdasar
atas pemusyawaratan/perwakilan.

d. Pokok pikiran IV

Pokok pikiran keempat yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945
ialah negara yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut
dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Artinya, undang-undang dasar itu
harus mengandung isi yang mewajibkan budi pekerti kemanusiaan yang luhur
dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur.
Pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945 ini selanjutnya dijabarkan
dalam pasal-pasal yang terdapat pada Pasal-pasal UUD 1945

Sumber: https://duniapendidikan.co.id/

Sejarah Windows

Sejarah Windows

Sejarah Windows

Windows adalah

Sejarah microsoft windows – Windows adalah keluarga sistem operasi. yang dikembangkan oleh Microsoft, dengan menggunakan antarmuka pengguna grafis. Sistem operasi Windows telah berevolusi dari MS-DOS, sebuah sistem operasi yang berbasis modus teks dan command-line. Windows versi pertama, Windows Graphic Environment 1.0 pertama kali diperkenalkan pada 10 November 1983, tetapi baru keluar pasar pada bulan November tahun 1985, yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan komputer dengan tampilan bergambar.

Windows 1.0 merupakan perangkat lunak 16-bit tambahan (bukan merupakan sistem operasi) yang berjalan di atas MS-DOS (dan beberapa varian dari MS-DOS), sehingga ia tidak akan dapat berjalan tanpa adanya sistem operasi DOS. Versi 2.x, versi 3.x juga sama. Beberapa versi terakhir dari Windows (dimulai dari versi 4.0 dan Windows NT 3.1) merupakan sistem operasi mandiri yang tidak lagi bergantung kepada sistem operasi MS-DOS. Microsoft Windows kemudian bisa berkembang dan dapat menguasai penggunaan sistem operasi hingga mencapai 90%.

Sejarah Singkat Tentang Windows

Dimulai dari DosShell for DOS 6 buatan Microsoft dan inginnya Microsoft bersaing terhadap larisnya penjualan Apple Macintosh yang menggunakan GUI, Microsoft menciptakan Windows 1.0. Nama ini berasal dari kelatahan karyawan Microsoft yang menyebut nama aplikasi tersebut sebagai Program Windows (Jendela Program). Windows versi 2 adalah versi Windows pertama yang bisa diinstal program. Satu-satunya program yang bisa ditambahkan adalah Microsoft Word versi 1.

Windows versi 3 menjanjikan aplikasi tambahan yang lebih banyak, kelengkapan penggunaan, kecantikan user interface atau antarmuka dan mudahnya konfigurasi. Windows versi 3.1 adalah versi Windows yang bisa mengoptimalisasi penggunaannya pada prosesor 32-bit Intel 80386 ke atas. Windows versi 3.11 adalah versi Windows terakhir sebelum era Start Menu. Windows 3.11 pun adalah versi Windows pertama yang mendukung networking/jaringan. Versi Hibrida dapat dijalankan tanpa MS-DOS. Versi Hibrida tersebut menginstalasi dirinya sendiri dengan DOS 7.

Tidak seperti Windows versi 16-bit yang merupakan shell yang harus diinstalasi melalui DOS terlebih dahulu. Aplikasinya pun berbeda. Meskipun Windows 9X dapat menjalankan aplikasi Windows 16-bit, namun Windows 9X memiliki grade aplikasi sendiri – X86-32, Windows 9X sangat terkenal dengan BSOD (Blue Screen of Death).

Versi-versi Dari Sistem Operasi Windows

16-bit, berjalan di atas MS-DOS
1985 November – Windows 1.0
1987 9 Desember – Windows 2.0
1990 22 Mei – Windows 3.0
1992 Agustus – Windows 3.1
1992 Oktober – Windows for Workgroups 3.1
1993 November – Windows for Workgroups 3.11 (Versi terakhir tanpa Menu Mulai)

Hibrida (16-bit/32-bit), berjalan tanpa MS-DOS (meski tidak sepenuhnya)

1995 24 Agustus – Windows 95 (Versi: 4.00.950) (Versi pertama dengan Menu Mulai)
1998 25 Juni – Windows 98 (Versi: 4.1.1998)
1999 5 Mei – Windows 98 Second Edition (Versi: 4.1.2222)
2000 19 Juni – Windows Millennium Edition (Me) (Versi: 4.9.3000)
Berbasis kernel Windows NT
1993 Agustus – Windows NT 3.1
1994 September – Windows NT 3.5
1995 Juni – Windows NT 3.51
1996 29 Juli – Windows NT 4.0
2000 17 Februari – Windows 2000 (Versi: NT 5.0.2195)
2001 – Windows XP (Versi: NT 5.1.2600)
2003 – Windows Server 2003 (Versi: NT 5.2.3790)
2006 – Windows Vista (Versi 6.0 Build 6000)
2007 – Windows Home Server (Versi 6.0.1800.24)
2008 – Windows Server 2008 (Versi 6.1)
2009 22 Oktober – Windows 7 (Versi 6.1 Build 7600) (Versi terakhir dengan Menu Mulai)
2009 – Windows Server 2008 R2 (Versi 6.1)
2012 26 Oktober – Windows 8 (Versi 6.2 Build 9.200) (Versi pertama dengan Layar Mulai)

Sumber : https://www.dosenmatematika.co.id/

Mengenal Mekanisme Kerja Otot

Mengenal Mekanisme Kerja Otot

Kalian bahagia olahraga nggak, sih? Nah, umumnya disaat olahraga, salah satu perihal yang di idamkan yakni untuk menguatkan pada anggota otot. Baik, itu pada anggota lengan, perut, maupun kaki. Apakah kamu termasuk begitu? Tapi, sebenarnya kamu menyadari nggak bagaimana mekanisme kerja otot? Yuk, kami bahas bersama!

Mengapa kami bisa bergerak? Well, gara-gara didalam tubuh kami terdapat alat gerak aktif berwujud otot dan alat gerak pasif yang bernama tulang. Oleh gara-gara itu, tulang bisa bergerak gara-gara otot. Lalu, bagaimana cara otot bisa mobilisasi tulang-tulang? Karena adanya kontraksi dan relaksasi otot.

Kontraksi otot adalah kondisi sementara otot menegang dan memendek sehingga kemudian bisa mobilisasi tulang atau rangka tubuhmu. Lalu, relaksasi itu kebalikannya dong? Yap! Relaksasi adalah kondisi disaat otot kembali memanjang. Jangan lupa, ya! Kontraksi = memendek, relaksasi = memanjang. Oh iya, otot yang sebabkan rangka bergerak disebut bersama dengan otot rangka. Unit fungsional berasal dari otot rangka disebut bersama dengan sarkomer, yang tersusun oleh aktin dan miosin.

Wah, apa kembali tuh aktin dan miosin? Aktin adalah protein pembentuk filamen halus. Aktin ini ada 2 untai, lho. Di didalam aktin ada protein troponin dan tropomiosin. Selain itu, termasuk ada segi untuk pengikatan miosin. Kalau miosin itu apa, temannya aktin? Miosin adalah protein pembentuk filamen tidak tipis yang bertugas menarik aktin disaat kontraksi otot terjadi. Wah, jadi mereka bekerja sama gitu, ya? Betul! Mereka bekerja sama sehingga kami bisa bergerak, nih.

Selain aktin dan miosin, sarkomer ini punya daerah-daerah lain di dalamnya, lho. Ada empat daerah, namanya Pita I, Pita A, Zona H, dan Garis Z. Apa aja sih yang ada di situ? Pada Pita I cuma ada aktin di dalamnya. Sementara itu, Pita A punya aktin dan miosin sekaligus. Lalu, Zona H cuma punya miosin saja. Nah, Garis Z itu apa, ya? Garis Z itu penghubung antar sarkomer. Jangan sampai tertukar, ya! www.biologi.co.id

Pentingnya Kursus Online bagi Kemajuan Karier Anda

Pentingnya Kursus Online bagi Kemajuan Karier Anda

Rekan Kerja, pernahkah Anda berpikir untuk mengembangkan keahlian atau minat Anda? Walaupun Anda sudah bekerja, bukan artinya kapabilitas diri Anda perlu terhenti terhadap bidang pekerjaan Anda saja lho, Rekan Kerja. Dalam jaman digital sekarang, akses terhadap kursus online untuk mengembangkan keahlian Anda terlampau ringan dijangkau. Anda hanya butuh smartphone dan akses internet tanpa perlu berada di suatu area tertentu.

Tidak perlu membawa dampak jadwal tertentu untuk mengembangkan keahlian. Setiap pas bisa jadi pas yang tepat.

Kursus online tidak menghambat kegiatan utama Anda. Anda bisa melakukan kursus online baik di sela-sela kegiatan Anda di kantor atau lebih dari satu menit sebelum beranjak ke area tidur. Fleksibilitas merupakan kelebihan yang di tawarkan oleh kursus online. Kursus online sangat mungkin Anda untuk mendalami suatu bidang kompetensi kapan dan di mana saja. Pada pas yang sama, kepentingan untuk mengembangkan diri selamanya terpenuhi. Alasan di bawah ini jadi pendorong Anda untuk selamanya mematangkan kapabilitas dan keahlian Anda:

1. Industri Selalu Bergerak bersama dengan Cepat

Rekan Kerja, pasti Anda tahu bahwa industri berbentuk dinamis. Hal berikut mengharuskan Anda untuk mengimbangi ritmenya, terutama kecuali peran Anda di kantor terlampau penting, maka tuntutan untuk utamakan urusan perusahaan makin kuat.

Manajemen dapat berpikir dua kali untuk berikan Anda pelatihan sambungan yang pelaksanaannya kuras waktu. Namun, bersama dengan kursus online semua teratasi: performa kerja Anda tidak terganggu dan kompetensi Anda tetap berkembang.

2. Persaingan Kerja Mesti Dihadapi

Indonesia dapat mengalami ledakan masyarakat umur produktif terhadap 2020-2030. Dapatkah Anda berkhayal kompetisi kerja yang tersedia nanti? Jika pas ini saja sudah jadi terlampau ketat? Menghadapi kompetisi kerja pasti bukanlah pilihan paling baik Anda ya, Rekan Kerja. Mengembangkan keahlian dan kapabilitas Anda bisa membantu Anda untuk menyiapkan diri dalam bersaing di dunia kerja.

3. Jika Hanya Fokus Bekerja, Maka dapat Tertinggal

Pernahkah Anda berkhayal mempunyai karier yang mentok hanya terhadap urusan yang itu-itu saja? Pekerjaan monoton yang Anda melakukan tiap-tiap hari. Pada kenyataannya, tiap-tiap orang berhak mempunyai karier yang tetap berkembang. Pastikan bahwa Anda selamanya mempunyai peluang untuk mendalami berbagai bidang kompetensi dan pertumbuhan dalam karier Anda.

4. Selalu Ada Hal Baru untuk Dipelajari

Di jaman pertumbuhan teknologi layaknya sekarang, banyak perihal baru yang bermunculan. Mempelajari dan tahu hal-hal berikut bersama dengan memaksimalkan faedah teknologi informasi dapat terlampau membantu sistem belajar lho, Rekan Kerja. Kursus online bersama dengan pola mobile learning merupakan satu-satunya cara kami agar tidak tertinggal hal-hal baru. www.gurukelas.co.id

Mengenal Awal Mula Sistem Klasifikasi Mahkluk Hidup

Mengenal Awal Mula Sistem Klasifikasi Mahkluk Hidup

Bagaimana kesibukan belajarnya di sekolah? Hmm biasanya terkecuali di sekolah, kamu ikutan kesibukan ekstrakurikuler nggak, sih? Kegiatan tersebut biasanya diklasifikasikan sesuai bersama dengan minat dan bakatmu masing-masing kan ya? Hmm tahukah kamu, ternyata klasifikasi ini nggak hanya ada di kesibukan ekstrakurikuler, tapi juga berjalan terhadap mahkluk hidup. Ada 5 sistem klasifikasi mahkluk hidup yang wajib kamu pelajari. Kelima proses tersebut adalah klasifikasi proses 2 kingdom, klasifikasi proses 3 kingdom, klasifikasi proses 4 kingdom, klasifikasi proses 5 kingdom, dan klasifikasi proses 6 kingdom. Untuk bocorannya, menyaksikan gambar di bawah ini dulu, yuk!

Menurut proses 2 kingdom, hanya ada 2 group mahkluk hidup yang diakui terhadap masa ini, yaitu hewan (animalia) dan tumbuhan (plantae). Kelompok hewan merupakan mahkluk hidup yang tidak mampu memicu makanan sendiri dan butuh mahluk hidup lain untuk sediakan makanannya. Selain itu, group ini juga mampu berubah area bersama dengan cara bergerak. Coba, menurutmu, mahkluk hidup apa sih yang mampu menunjang group hewan sediakan makanannya? Yap! Kelompok tumbuhan!

Lalu, bagaimana bersama dengan group tumbuhan? Kelompok tumbuhan merupakan group yang mampu memicu makanan sendiri bersama dengan lakukan proses fotosintesis dan pertolongan sinar matahari. Meskipun demikian, group ini tidak mampu berubah area seperti group hewan. Mereka hanya mampu lakukan gerak terbatas, seandainya ikuti kemana arah sinar matahari.

Setelah sebelumnya mahkluk hidup hanya terdiri dari 2 kelompok, sekarang group tersebut berkembang jadi 3. Kira-kira nama sistemnya apa, ya? Tul banget! Nama sistemnya adalah proses 3 kingdom. Menurut proses ini, berdasarkan cara mendapatkan makanan, mahkluk hidup dibagi jadi 3 group yang berbeda. Ketiga group tersebut adalah jamur (fungi), tumbuhan (plantae), dan hewan (animalia).

Lalu, bagaimana ya cara ketiga group tersebut mendapatkan makanan? Kelompok jamur mampu mendapatkan makanan bersama dengan menguraikan area hidupnya lalu menyerap nutrisi yang disediakan oleh area hidupnya. Lalu, bedanya apa bersama dengan group tumbuhan? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, group tumbuhan ini mendapatkan makanan bersama dengan lakukan fotosintesis. Oleh dikarenakan itu, mereka mampu memproduksi makanannya sendiri, ya. Kelompok yang tidak mampu mendapatkan makanan sendiri itu adalah group hewan. Mereka mendapatkan makanan bersama dengan cara memangsa hewan lain.

Pada proses klasifikasi 4 kingdom, dasar klasifikasi yang digunakan adalah keberadaan membran inti sel. Oleh dikarenakan itu, group mahkluk hidup terhadap proses ini dibagi berdasarkan ada atau tidaknya membran inti sel. Organisme yang tidak miliki membran inti sel disebut bersama dengan prokariota, tetapi organisme yang miliki membran inti sel dikenal sebagai eukariota.

Kelompok jamur, tumbuhan, dan hewan yang telah ada terhadap proses klasifikasi sebelumnya dikategorikan sebagai eukariota didalam proses klasifikasi ini. Lalu, group apa dong yang dikategorikan sebagai prokariota? Kelompok tersebut namanya monera, atau yang biasa kami kenal bersama dengan sebutan bakteri.

Sistem klasifikasi mahkluk hidup setelah itu disebut bersama dengan proses 5 kingdom. Sistem ini ditemukan oleh Robert H. Whittaker (1969). Klasifikasi terhadap proses ini disusun berdasarkan struktur organisasi internal sel, struktur organisasi sel, dan jenis nutrisi sel. Wah, beda ulang dong ya? Bedanya di mana, ya?

Menurut proses klasifikasi 5 kingdom, ada kategori baru yaitu protista. Protista ini antara lain meliputi protozoa dan ganggang. Selain protista, ada juga monera yang meliputi bakteri dan ganggang hijau biru, fungi yang meliputi cendawan, plantae yang isinya bryophyta, pteridophyta dan spermatophyte, serta animalia yang beranggotakan vertebrata dan avertebrata. Hayo, jangan sampai tertukar, ya!

Sistem 6 kingdom ini merupakan proses klasifikasi makhluk hidup yang kami kenal sampai sekarang. Tokoh yang mencetuskan proses ini bernama Thomas Cavalier-Smith. Sistem ini dikemukakan terhadap th. 2004. Anggota terhadap proses ini tidak cukup lebih sama seperti yang ada di proses 5 kingdom, hanya saja ada anggota baru yang disebut Archaebacteria. Wah! Ada teman baru lagi! Archaebacteria ini beranggotakan bakteri-bakteri yang mampu hidup di area ekstrim. Jagoan-jagoan ya kayaknya nih

Baca Juga :

Tingkatkan Pemahaman Siswa Tentang Pentingnya Sarapan

Tingkatkan Pemahaman Siswa Tentang Pentingnya Sarapan – Permasalahan gizi anak sekolah di Indonesia masih membutuhkan perhatian dari sekian banyak pihak.

Anak sekolah memerlukan energi yang besar guna masa perkembangan dan kegiatan sehari-hari.

Oleh sebab itu, mereka membutuhkan asupan nutrisi yang tepat untuk menolong masa perkembangan serta memaksimalkan proses pembelajaran.

Melihat pada kedudukan gizi anak Indonesia, Mondelez International melewati program Joy Schools berkomitmen guna memberdayakan anak sekolah untuk memungut langkah-langkah positif dalam mengawal kesejahteraan mereka.

“Dalam kurun masa-masa 2 tahun, program Joy Schools sudah sukses menambah pemahaman semua siswa SDN Bangka 03 Jakarta terhadap pentingnya sarapan sebesar 21 persen bila dikomparasikan tahun lalu,” kata Khrisma Fitriasari, Head of Corporate and Government Affairs Mondelez Indonesia di Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Dikatakannya, Joy Schools sebagai program kemitraan komunitas berfokus pada 3 area yaitu pendidikan nutrisi yang mengajarkan kelaziman sarapan pagi dengan menyerahkan makanan ekstra bergizi 3 kali dalam seminggu.

Kedua, akses pada makanan sehat dengan teknik mengajak semua siswa guna berkebun dan menempatkan tanaman segar di halaman sekolah sehingga semua siswa dapat mendapatkan guna dari berkebun.

“Ketiga ialah aktivitas jasmani yang mempromosikan pelbagai permainan kreatif melalui sekian banyak kreasi atau sumbangan alat-alat olah raga,” katanya.

Program Joy Schools berkolaborasi dengan Yayasan Emmanuel dan bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Kesehatan tingkat propinsi DKI Jakarta.

Program berkelanjutan dari Mondelez International ini sudah bermitra dengan 5 sekolah di 3 lokasi, yakni Jakarta (SDN Bangka 03, SDN Bangka 07, dan SDN Pancoran 08), Bandung (SDN Cigugur Tengah), dan Cikarang (SDN Wangun Harja 02).

Di Indonesia, program Joy Schools sudah melibatkan 247 karyawan sebagai relawan dengan total pekerjaan program menjangkau 1.011 jam.

Di samping di Indonesia, program Joy Schools sudah diimplementasikan di Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam serta memberikan akibat positif untuk 11.500 murid sekolah.

Terinspirasi dari program Joy Schools, kali ini KRAFT turut berpartisipasi melewati “KRAFT Berbagi Kreasi”, sebuah kegiatan digital oleh KRAFT yang mengonversi masing-masing resep yang diunggah menjadi 5 buah buku.

Sekitar 1.200 kitab akan disumbangkan guna anak sekolah dalam program Joy Schools.

“Kami bercita-cita program Joy School dapat mendapat respon yang baik serta memberikan akibat positif terhadap peningkatan kelaziman hidup sehat dan kedudukan gizi anak sekolah di Indonesia. Di masa depan kami optimis guna keberlanjutan program serta bisa bermitra dengan sekolah di distrik lainnya di Indonesia,” kata Khrisma.

Sumber: www.bahasainggris.co.id

Cara Membangun Pendidikan Yang Kompetitif

Cara Membangun Pendidikan Yang Kompetitif – Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat mengucapkan pandangan dan sikap reflektif, serta perkataan selamat untuk pemerintah dan masyarakat luas yang sekitar ini sudah dan masih terus mengabdikan diri dirinya di dunia pendidikan.

Tidak banyak warga bangsa secara personal yang tanpa pamrih di wilayah daerah pelosok mengasuh dengan hati dalam masa-masa yang panjang guna mencerdaskan dan mencerahkan anak-anak Indonesia. Tidak sedikit pun lembaga atau ormas-ormas keagamaan yang terus menambah dan memajukan pendidikan di Indonesia. Tidak ringan melaksanakan amanah dunia edukasi ini. Tantangan dan problem paling kompleks yang dihadapi dunia pendidikan. Karena itu, Komisi Pendidikan dan Kaderisasi mengucapkan apresiasi dan terima masih yang sebesar-besarnya untuk mereka seluruh yang sudah berjasa sebab dedikasinya yang tinggi dalam mengelola dan mengembangkan pendidikan.

Sesuai dengan pandangan hidup yang mesti dianut dan dipercayai oleh Bangsa Indonesia, maka Sila Pertama dari Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, mestilah menjadi sumber moral, filosofis dan ideologis yang menjiwai seluruh edukasi yang diadakan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Dengan demikian, semua program dan pekerjaan pendidikan yang tidak mengacu untuk nilai-nilai doktrin agama dan kepercayaan untuk Tuhan Yang Maha Esa jelas berlawanan dengan Pancasila.

Bangsa Indonesia ialah bangsa yang mempunyai kekayaan nilai-nilai luhur yang mengecat dan menyusun watak dan jati diri bangsa Indonesia. Nilai-nilai luhur ini pun telah mengecat sistim tindakan, kebiasaan, tradisi dan kebiasaan yang hidup, berkembang dan dijaga secara turun temurun oleh masyarakat. Karena tersebut nilai-nilai luhur ini pun telah menjadi unsur yang tidak terpisahkan dari kehidupan dan kebudayaan Indonesia.

Sehubungan dengan itu, edukasi nasional mestilah di anggap sebagai instrumen penting untuk upaya melestarikan, memperkokoh nilai-nilai luhur itu dalam rangka memperkuat dan memajukan kebudayaan dan kemajuan Indonesia. Karena itu, kesatu, edukasi haruslah dapat memberikan garansi kepada masyarakat luas bahwa nilai-nilai luhur bangsa Indonesia bakal senantiasa terjaga. Kedua, edukasi haruslah memiliki keterampilan untuk meyakinkan masyarakat bahwa nilai-nilai, kebudayaan dan filsafat hidup yang berasal dari luar (budaya transnasional) yang tidak cocok dan bahkan berlawanan dengan nilai dan jati diri bangsa Indonesia mestilah ditolak.

Pendidikan pun haruslah menjadi lokasi yang tepat guna mendorong dan mencetuskan generasi muda yang produktif, kompetitif, berjiwa merdeka/berdaulat, percaya diri dan berkepribadian luhur tidak silau dengan faham faham sekularisme, hedonisme, konsumerisme dan liberalisme. Melalui generasi muda terdidik laksana ini, maka diinginkan Indonesia bakal menjadi suatu bangsa dan negara besar dan disegani dengan kemajuan yang luhur.

Membaca dan mencari sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang panjang anda akan jumpai tidak sedikit pejuang dan pahlawan yang dengan sarat keyakinan, keteguhan, dedikasi tinggi dan sarat pengorbanan berusaha untuk kedaulatan dan kemerdekaan; spirit untuk menyerahkan yang terbaik untuk negeri sangatlah kuat dipunyai oleh semua pejuang. Memperhatikan masalah dan kendala besar yang dihadapi bangsa ini, maka edukasi haruslah adalah tempat yang paling tepat guna menyemai, menyuburkan dan memperkokoh nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme di kalangan generasi muda dan pendidik berkewajiban menjadi teladan dan sumber terpercaya untuk peserta didik.

Dalam kaitan di atas, maka mesti diyakinkan dengan betul-betul bahwa lembaga edukasi haruslah terbebaskan dari berbagai format penyelewengan, kriminalisasi dan tindakan-tindakan kekerasan lainnya. Salah satu masalah faktual besar yang berkembang dalam panggung kehidupan berbangsa ialah merajalelanya kelompok-kelompok yang nampak secara terus menerus tanpa rasa malu menggeronggoti dan membangkrutkan kekayaan dan merongrong ideologi bangsa yakni Pancasila.

Karena itu, lembaga edukasi haruslah benar-benar mempunyai elan vital yang kokoh bukan hanya untuk memajukan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni bakal tetapi pun membangun dan memperkokoh karakter. Tidak terdapat lagi perbuatan fitnah, bully, hoax, krimimalitas, pembohongan, penipuan, korupsi yang melibatkan civitas akademika lembaga edukasi baik sebagai korban maupun sebagai pelaku.

Deras dan cepatnya pertumbuhan revolusi industri teknologi informasi dan komunikasi di era digital ini tidak dapat terbendung. Perubahan di sekian banyak bidang kehidupan terjadi dengan cepat dengan sekian banyak implikasinya baik negatif maupun positif. Disrupsi tidak dapat ditolak tergolong dalam bidang pendidikan. Melalui TIK yang semakin advanced, maka informasi dan sumber belajar bukan lagi berpusat untuk guru/pendidik.

Guru atau pendidik melulu akan menjadi di antara saja diantara sekian tidak sedikit sumber belajar yang dapat diakses secara bebas dan tersingkap kapan saja oleh generasi peserta didik. Oleh sebab itu, telah saatnya lembaga-lembaga pendidikan dapat segera memanfaatkan peradaban TIK bukan hanya untuk mengembangkan dan memajukan edukasi secara kelembagaan dan akademik, bakal tetapi pun untuk menyemai dan mengembangkan secara meluas nila-nilai keluhuran. Secara produktif dan inovatif lembaga-lembaga edukasi kita diinginkan tidak saja dapat menangkal negative desruption TIK (hoax, tampilan asusila, kelaziman bully, ujaran kebohongan, kriminalitas, pertentangan tergolong penyebaran paham-paham transnasional yang berlawanan dengan nilai luhur agama dan Pancasila) bakal tetapi pun berkemampuan tinggi memperkokoh karakter bangsa.

Sumber: www.sekolahan.co.id

Lakukan Banyak Aktivitas Untuk Mencegah Osteoporosis

Lakukan Banyak Aktivitas Untuk Mencegah Osteoporosis – Osteoporosis ialah kondisi tulang yang menjadi tipis, rapuh, keropos, dan gampang patah dampak berkurangnya massa tulang dalam jangka masa-masa lama.

Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Gizi Departemen Kesehatan RI pada 2005 mengenalkan hasil analisis data risiko osteoporosis yang dilaksanakan di 16 distrik di Indonesia.

Analisis ini mengindikasikan prevalensi osteopenia (osteoporosis dini) menjangkau 41,7% dan prevalensi osteoporosis menjangkau 10,3%. Hal ini berarti 2 dari 5 warga Indonesia mempunyai risiko terpapar osteoporosis, sebab 41,2% dari borongan sampel berusia tidak cukup dari 55 tahun terdeteksi menderita osteopenia.

Sementara itu, data Riset Kesehatan Dasar 2013 mengaku proporsi warga Indonesia yang tergolong tidak cukup aktif sebesar 26,1%. Sebanyak 42,0% penduduk kumpulan umur ?10 tahun menjalankan perilaku sedentari sekitar 3- 5,9 jam masing-masing hari dan 1 dari 4 warga Indonesia mengerjakan sedentari sekitar ?6 jam per hari.

Pengurus Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI), dr Ade Tobing, SpKO, mengatakan, langkah mula sederhana pencegahan osteoporosis dapat dilakukan dengan merealisasikan pola santap sehat dan aktif beraktivitas jasmani atau berolahraga.

Penuhi asupan kalsium masing-masing hari sesuai umur dan vitamin D untuk menolong penyerapan kalsium. “Di samping itu, hindari perilaku sedentari dengan teratur berolahraga. Kurang olahraga bakal menghambat proses pembentukan massa tulang sehingga menyebabkan berkurangnya kepadatan massa tulang,” ujar dr Ade.

Ia menuturkan, latihan jasmani atau olahraga yang dibuka sejak dini bisa secara efektif menangkal penyakit osteoporosis. Ada juga untuk menangkal osteoporosis, disarankan melakukan latihan mempunyai sifat weight bearing exercise , yaitu pelajaran pembebanan terutama pada lokasi lumbal, pangkal paha, dan pergelangan tangan.

Meski begitu, dr Ade menegaskan, olahraga mesti dilaksanakan dengan prinsip Baik, Benar, Terukur, dan Teratur (BBTT). “Sebelum berolahraga pastikan memakai perlengkapan yang cocok ukuran dan jenis olahraga, bila perlu memakai pelindung.

Lalu kerjakan pemanasan atau peregangan, diblokir dengan pendinginan. Untuk menjangkau hasil maksimal, kerjakan olahraga secara rutin, yakni 3-5 kali dalam seminggu,” kata dr Ade. Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, Kementerian Kesehatan drg.

Kartini Rustandi, M.Kes, menambahkan, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan Instruksi Presiden No. 1/2017 mengenai Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

GERMAS adalahpenguatan upaya promotif dan preventif yang ditujukan guna menurunkan beban penyakit menular dan penyakit tidak menular, kematian maupun kecacatan, menghindarkan terjadinya penurunan produktivitas penduduk, serta menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan sebab meningkatnya penyakit dan pengeluaran kesehatan.

“Salah satu konsentrasi GERMAS ialah rutin kegiatan fisik 30 menit masing-masing hari. Kementerian Kesehatan terus menerus mengedukasi masyarakat me ngenai pentingnya beraktivitas atau latihan jasmani sebagai pencegahan dini penyakit menular maupun tidak menular,” kata drg Kartini.

Menurutnya, di antara penyakit riskan mengancam kesehatan masyarakat Indonesia ialah osteoporosis yang dijuluki The Silent Epidemic Disease. Karena menyerang diamdiam tanpa adanya firasat khusus sampai seseorang merasakan patah tulang.

“Osteoporosis secara negatif memengaruhi situasi ekonomi maupun sosial seseorang. Dampak ekonomi meliputi ongkos untuk penyembuhan dan hilangnya masa-masa kerja atau produktivitas. Osteoporosis sangat riskan dan tidak dapat disembuhkan. Oleh sebab itu, sangat urgen men cegah osteoporosis semenjak dini,” kata drg Kartini.

Baca Juga:

Komponen dan Prinsip Pengembangan Kurikulum

Komponen dan Prinsip Pengembangan Kurikulum

Pengembangan Kurikulum
Pengembangan Kurikulum

Kurikulum memiliki lima komponen utama, yaitu : (1) tujuan; (2) isi/materi; (3) metode atau strategi pencapain tujuan pembelajaran; (4) organisasi kurikulum dan (5) evaluasi.
Tujuan

Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut:

• Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
• Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
• Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
• Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler; yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan.

 

Tujuan pembelajaran merupakan tujuan pendidikan yang lebih operasional, yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran dari setiap mata pelajaran. Pada tingkat operasional ini, tujuan pendidikan dirumuskan lebih bersifat spesifik dan lebih menggambarkan tentang “what will the student be able to do as result of the teaching that he was unable to do before” (Rowntree dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 1997). Tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan perilaku spesifik apa yang hendak dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran. Merujuk pada pemikiran Bloom, maka perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran pada tingkat operasional ini akan menentukan terhadap keberhasilan tujuan pendidikan pada tingkat berikutnya. Terlepas dari rangkaian tujuan di atas bahwa perumusan tujuan kurikulum sangat terkait erat dengan filsafat yang melandasinya.

 

Jika kurikulum yang dikembangkan menggunakan dasar filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme) sebagai pijakan utamanya maka tujuan kurikulum lebih banyak diarahkan pada pencapaian penguasaan materi dan cenderung menekankan pada upaya pengembangan aspek intelektual atau aspek kognitif. Apabila kurikulum yang dikembangkan menggunakan filsafat progresivisme sebagai pijakan utamanya, maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada proses pengembangan dan aktualisasi diri peserta didik dan lebih berorientasi pada upaya pengembangan aspek afektif. Pengembangan kurikulum dengan menggunakan filsafat rekonsktruktivisme sebagai dasar utamanya, maka tujuan pendidikan banyak diarahkan pada upaya pemecahan masalah sosial yang krusial dan kemampuan bekerja sama. Sementara kurikulum yang dikembangkan dengan menggunakan dasar filosofi teknologi pendidikan dan teori pendidikan teknologis, maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada pencapaian kompetensi.

 

Isi / Materi Pembelajaran

Dalam menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar tidak lepas dari filsafat dan teori pendidikan dikembangkan. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pengembangan kurikulum yang didasari filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme) penguasaan materi pembelajaran menjadi hal yang utama. Dalam hal ini, materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk :
• Teori; seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan – hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.
• Konsep; suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan, merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.
• Generalisasi; kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
• Prinsip; yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep.
• Prosedur; yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik.
• Fakta; sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari terminologi, orang dan tempat serta kejadian.
• Istilah, kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi.

 

• Contoh/ilustrasi, yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat.
• Definisi:yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam garis besarnya.
• Preposisi, yaitu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.
Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat progresivisme lebih memperhatikan tentang kebutuhan, minat, dan kehidupan peserta didik. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat konstruktivisme, materi pembelajaran dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tema-tema dan topik-topik yang diangkat dari masalah-masalah sosial yang krusial, misalnya tentang ekonomi, sosial bahkan tentang alam. Materi pembelajaran yang berlandaskan pada teknologi pendidikan banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja untuk mendukung penguasaan suatu kompetensi.
Terlepas dari filsafat yang mendasari pengembangan materi, Nana Syaodih Sukamadinata (1997) mengetengahkan tentang sekuens susunan materi pembelajaran, yaitu :
• Sekuens kronologis; susunan materi pembelajaran yang mengandung urutan waktu.
• Sekuens kausal; susunan materi pembelajaran yang mengandung hubungan sebab-akibat.
• Sekuens struktural; susunan materi pembelajaran yang mengandung struktur materi.

 

• Sekuens logis dan psikologis; sekuensi logis merupakan susunan materi pembelajaran dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan, dari yang sederhana menuju kepada yang kompleks. Sedangkan sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan menuju bagian-bagian, dan dari yang kompleks menuju yang sederhana. Menurut sekuens logis materi pembelajaran disusun dari nyata ke abstrak, dari benda ke teori, dari fungsi ke struktur, dari masalah bagaimana ke masalah mengapa.
• Sekuens spiral ; susunan materi pembelajaran yang dipusatkan pada topik atau bahan tertentu yang populer dan sederhana, kemudian dikembangkan, diperdalam dan diperluas dengan bahan yang lebih kompleks.
• Sekuens rangkaian ke belakang; dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah akhir dan mundur kebelakang. Contoh pemecahan masalah yang bersifat ilmiah, meliputi 5 langkah sebagai berikut : (a) pembatasan masalah; (b) penyusunan hipotesis; (c) pengumpulan data; (d) pengujian hipotesis; dan (e) interpretasi hasil tes.
• Dalam mengajarnya, guru memulai dengan langkah (a) sampai (d), dan peserta didik diminta untuk membuat interprestasi hasilnya (e). Pada kasempatan lain guru menyajikan data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c) dan peserta didik diminta untuk mengadakan pengetesan hipotesis (d) dan seterusnya.
• Sekuens berdasarkan hierarki belajar; prosedur pembelajaran dimulai menganalisis tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kemudian dicari suatu hierarki urutan materi pembelajaran untuk mencapai tujuan atau kompetensi tersebut. Hierarki tersebut menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik, berturut-berturut sampai dengan perilaku terakhir.

Metode atau strategi pencapain tujuan

Metode dan teknik pembelajaran yang digunakan pada umumnya bersifat penyajian (ekspositorik) secara massal, seperti ceramah atau seminar. Selain itu, pembelajaran cenderung lebih bersifat tekstual. Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut menurut kalangan progresivisme, yang seharusnya aktif dalam suatu proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mendapat dukungan dari kalangan rekonstruktivisme yang menekankan pentingnya proses pembelajaran melalui dinamika kelompok. Pembelajaran cenderung bersifat kontekstual, metode dan teknik pembelajaran yang digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian dari guru tetapi lebih bersifat individual, langsung, dan memanfaatkan proses dinamika kelompok (kooperatif), seperti : pembelajaran moduler, obeservasi, simulasi atau role playing, diskusi, dan sejenisnya.

 

Sumber : https://www.ayoksinau.com/