Pemimpin sebagai Agen Perubahan

Pemimpin sebagai Agen Perubahan

Pemimpin

Layaknya seorang menejer sebuah tim sepak bola ataupun seekor pemimpin belalang, seorang pemimpin organisasi perlu memikirkan bagaimana melakukan perubahan baik secara internal maupun eksternal agar strategi dan kebijakan yang diambilnya sesuai dengan tuntutan lingkungan yang senantiasa berubah. Pemimpin seperti ini oleh Burns (1978) disebut sebagai pemimpin transformasional (Transformational Leadership) atau disebut juga pemimpin penerobos atau breakthrough leadership (Sarros dan Butchatsky, 1996). Karakteristik utama pemimpin transformasional ini diantaranya memiliki kemampuan untuk bertindak sebagai agen perubahan (agent of change) bagi organisasi, sehingga dapat menciptakan strategi-strategi baru dalam mengembangkan praktik-praktik organisasi yang lebih relevan.

 

Bass dan Avolio (1994) mengemukakan empat dimensi kepemimpinan transformasional:

  1. Dimensi pertama, idealized influence (pengaruh ideal). Artinya, pola perilaku seorang pemimpin harus menjadi suri tauladan bagi para pengikutnya, tutur katanya harus sesuai dengan perbuatannya alias tidak munafik. Pemimpin seperti ini biasanya akan dikagumi, dihormati dan dipercayai oleh para bawahannya. Sebetulnya dimensi ini tidak aneh bagi kita, sebab sudah sejak lama kita mengenal dimensi ini, yakni apa yang disebut dengan prinsip “Ing ngarso sung tulodo.” Yang aneh justru mengapa para pemimpin kita apapun jabatannya, siapapun orangnya dan di manapun ia memimpin, nampaknya sulit sekali merubah dirinya menjadi pemimpin yang bisa ditauladani. Mungkinkah pemimpin kita sama dengan seekor belalang?
  2. Dimensi kedua, inspirational motivation (motivasi inspirasi). Dalam dimensi ini, seorang pemimpin harus mampu bertindak sebagai pencipta semangat kelompok atau tim dalam organisasi, memperlihatkan komitmen yang tinggi terhadap tujuan organisasi dan mampu mengartikulasikan pengharapan (expectation) yang jelas atas kinerja bawahan.
  3. Dimensi ketiga, disebut intellectual stimulation (stimulasi intelektual). Dimensi ini mengandung makna bahwa seorang pemimpin harus mampu berperan sebagai penumbuhkembang ide-ide yang kreatif sehingga dapat melahirkan inovasi, maupun sebagai pemecah masalah (problem solver) yang kreatif sehingga dapat melahirkan solusi terhadap berbagai permasalahan yang muncul dalam organisasi. Dimensi kedua dan ketiga ini dapat disebut sebagai “Ing madyo mangun karso” dalam “budaya” kita. Mudahan para pemimpin kita bertindak sebagai “Ing madyo mangun karso?” Kenyataannya tim PSSI kalah telak oleh tim sepak bola Lebanon.
  4. Dimensi yang keempat adalah individualized consideration (konsiderasi individu). Artinya, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan berhubungan dengan bawahan (human skill), mau mendengarkan, memperhatikan aspirasi dari bawah terutama kaitannya dengan pengembangan karier bawahan. Tut Wuri Hadayani.

 

Keempat dimensi kepemimpinan sebagai agen perubahan di atas, dapat menjadi suatu kekuatan atau energi yang dapat menggerakkan, memelihara keseimbangan dan mempertahankan organisasi sekalipun organisasi dihadapkan kepada situasi transisi, kritis, bahkan kemunduran. Jika keempat dimensi ini terus dipertahankan secara konsisten dan disepakati sebagai suatu nilai-nilai, asumsi ataupun kepercayaan oleh seluruh anggota organisasi, maka akan terbentuk apa yang dinamakan budaya organisasi (corporate culture).

Budaya Sebagai Energi Organisasi

Kembali kepada kekalahan tim PSSI, seorang pengamat sepak bola berkomentar, “sebetulnya kualitas pemain kita tidak jauh berbeda dengan para pemain Lebanon, perbedaannya hanya terletak pada kekuatan dan kecepatan pemain kita yang berada di bawah pemain Lebanon.” Komentar yang sangat logis. Karena itu, tidak mungkin seekor belalang merubah dirinya menjadi seekor jangkrik.

Mencermati fenomena kehidupan organisasi sekarang ini, apapun bentuknya, siapapun pemiliknya dan di manapun organisasi itu berada nampaknya tidak lepas dari dimensi kultural dan dimensi manusia sebagai aktornya. Sayangnya, seringkali strategi dan kebijakan organisasi sekarang ini terlalu menitikberatkan kepada dimensi struktural yang bersifat jangka pendek dan mengesampingkan dimensi kultural (budaya) organisasi yang bersifat jangka panjang. Akibatnya organisasi seringkali kehilangan energi, lesu dan tidak berdaya mengantisipasi perubahan lingkungan yang tidak hanya kompleks tetapi juga sangat cepat.

Perhatian terhadap organisasi dari sudut pemahaman budaya, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebetulnya bukan hal baru. Hal ini sudah berkembang sejak para ilmuwan sosial mempelajari organisasi. Pada 1930-an, Elton Mayo menggunakan istilah norma kelompok, Trice et al. (1969) mengemukakan karya tulisnya yang berjudul Ceremonials in Organizational Behavior yang kira-kira sama atau berkaitan dengan pengertian budaya. Namun demikian perhatian yang tinggi terhadap konsep budaya organisasi baru mulai  akhir 1970-an dan awal 1980-an, dimana pada masa itu muncul kebutuhan untuk mengkaji dan meneliti tentang sumbangan pendekatan budaya pada teore organisasi secara  mendalam. Intinya adalah apa dan bagaimana budaya sebagai suatu pendekatan dapat memberikan penjelasan (explanation), pemahaman (understanding), prediksi (prediction), dan pengendalian (control) terhadap fenomena kehidupan organisasi.

Munculnya perhatian yang tinggi terhadap konsep budaya organisasi tampaknya dilatarbelakangi oleh rasa kecewa para ahli terhadap teore-teore rasional (objektif) dalam meramalkan perilaku. Teore-teore tersebut dipandang hanya menjelaskan kulit luar organisasi tetapi tidak menyinggung jiwa organisasi (aspek simbolik di dalam organisasi). Reaksi terhadap teore-teore rasional tradisional akhirnya mendorong suatu perubahan ke arah konsep budaya. Namun demikian, pendekatan kebudayaan tidak dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi objektifistik, positifistik, dan fungsionalistik dalam teore organisasi dan menejemen. Kehadirannya semata-mata sebagai pelengkap dalam rangka  memprediksi dan pengendalian organisasi disamping pendekatan yang ada selama ini. Pertanyaan yang muncul adalah, Betulkah budaya dapat menjadi energi (kekuatan) bagi keberhasilan organisasi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut marilah kita awali dengan pengertian budaya organisasi.


Sumber : https://ngelag.com/

 

Memacu Pertumbuhan Pendidikan Robotika di Indonesia

Memacu Pertumbuhan Pendidikan Robotika di Indonesia

Sinarmas World Academy (SWA) menjadi tuan rumah persaingan kesatu First Lego League (FLL) di Indonesia (25/8/2018). Event kali kesatu di Indonesia ini menyuruh generasi muda anak bangsa beranggapan layaknya seorang ilmuwan dan berpengalaman teknologi.

For Inspiration & Recognition of Science & Technology (FIRST) Lego League telah diadakan di 98 negara dan dibuntuti lebih dari 320.000 peserta.

1. Praktek pembelajaran STEM

Kompetisi yang bertujuan menajamkan kreatifitas anak bangsa ini terdiri dari sejumlah kategori, mulai dari merangkai Lego (Creativity level), mendesain mekanika bergerak (Construction level), sampai kategori robotika (Robotics level).

Di dalam kelompok robotika, terdapat sejumlah sub kategori, diantaranya ialah kategori FLL (FIrst Lego League) dan kelompok WRO (World Robot Olympiad) 2018 open exhibition dan regular competition yang konsentrasi pada mengembangkan kreatifitas anak.

Keseluruhan proses kompetisi diinginkan menjadi wadah terbaik anak mempraktekan edukasi “STEM” (Science, Technology, Engineering and Mathematics) atau integrasi dari subyek latihan sains, teknologi, kiat dan matematika.

Selain persaingan sains dan teknologi, diadakan juga persaingan nasional “U Art”, suatu lompetisi mengecat dan menggambar tingkat nasional dengan merealisasikan metode Accelerated Drawing Technique yang memungkinkan anak dapat menggambar dengan gampang dan cepat.

2. Robotika unsur kurikulum

Acara ini dimulai Prof Wardiman Djojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ke-20, periode 1993-1998 dan Karina Charlotte Mosgart, Deputy Head of Trade Danish Embassy.

Lebih dari 500 murid datang dari 21 kota di Indonesia mengekor kompetisi. “Kami pun sudah mengajar siswa-siswi SWA dalam pembelajaran robotika yang memang adalah www.pelajaran.id bagian dari kurikulum pembelajaran di SWA. Siswa-siswa kami turut serta di dalam lomba robotika kelompok FLL dan WRO,” ucap Haoken, guru SWA.

SWA merealisasikan pembelajaran robotika semenjak usia dini di sekolah. “Teknologi berkembang paling pesat dan urusan ini dapat disaksikan dari pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), tergolong pada robot, yang mulai memainkan tidak sedikit peran dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Kelly, guru SWA.

Hal senada dikatakan Sofia Humas SWA, “FLL membuka kesempatan untuk para murid terlibat dalam pekerjaan pembelajaran otentik di mana mereka merealisasikan skill abad ke-21 dalam urusan Creativity, Critical Thinking, Communication and Collaboration dalam kerangka STEM.”

3. Menuju lomba internasional

Robotik sebagai unsur dari pembelajaran BEST (Business, Engineering, Science and Technology) Pathways di SWA menyerahkan siswa peluang mengembangkan profil pembelajar termasuk empiris dan kemahiran yang bersangkutan dengan jurusan yang bakal mereka ambil di perguruan tinggi.

Dalam persaingan ini, kesebelasan ‘Roboknights’ siswa ruang belajar 5 dan 6 SWA sukses meraih penghargaan tertinggi Champion’s Award FLL. Hal ini sekaligus mengirimkan tim “Roboknights” SWA lolos ke kompetisi robotik selanjutnya, “The World Festival FIRST Lego League Championship” di Houston, Texas, Amerika Serikat, bulan April 2019.

Di samping itu, di kelompok regular WRO, siswa ruang belajar 6 SWA menemukan penghargaan “Robot Performance Award”, kumpulan di tingkat SMP menemukan “Robot Design Award”, dan murid tingkat SMA SWA memenangkan “Robot Programming Award”.

“Kami bercita-cita lebih tidak sedikit lagi generasi anak bangsa Indonesia yang mengekor lomba di bidang sains dan teknologi dan mengekor lomba di ajang internasional di lantas hari,” ujar Sofia.

LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN
LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN
BAB 1
LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

1.1 Pengertian Media Pembelajaran

Pengertian media mengarah pada sesuatu yang mengantar/meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. Media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi (AECT Task Force,1977:162) ( dalam Latuheru,1988:11).
Robert Heinich dkk (1985:6) mengemukakan definisi medium sebagai sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. Masih dari sudut pandang yang sama, Kemp dan Dayton (1985:3), mengemukakan bahwa peran media dalam proses komunikasi adalah sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sander) kepada penerima pesan atau informasi (receiver).

erold Kemp (1986) dalam Pribadi (2004:1.4) mengemukakan beberapa faktor yang merupakan karakteristik dari media, antara lain:

  1. Kemampuan dalam menyajikan gambar (presentation)
  2. Faktor ukuran (size); besar atau kecil
  3. Faktor warna (color): hitam putih atau berwarna
  4. Faktor gerak: diam atau bergerak
  5. Faktor bahasa: tertulis atau lisan
  6. Faktor keterkaitan antara gambar dan suara: gambar saja, suara saja, atau    gabungan antara gambar dan suara.
Istilah media disini dilihat dari segi penggunaan, serta faedah dan fungsi khusus dalam kegiatan/proses belajar mengajar, maka yang digunakan adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah semua alat (bantu) atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan maksud untuk menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber (guru maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini anak didik ataupun warga belajar). (Latuheru,1988:13).

1.2 Landasan Media Pembelajaran

1.2.1 Landasan Psikologis Media Pembelajaran

Landasan psikologis penggunaan media pembelajaran ialah alasan atau rasional mengapa media pembelajaran dipergunakan ditinjau dari kondisi pembelajar dan bagaimana proses belajar itu terjadi. Perubahan perilaku itu dapat berupa bertambahnya pengetahuan, diperolehnya ketrampilan atau kecekatan dan berubahnya sikap seseorang yang telah belajar.
Pengetahuan dan pengalaman itu diperoleh melalui pintu gerbang alat indera pebelajar karena itu diperlukan rangsangan (menurut teori Behaviorisme) atau informasi (menurut teori Kognitif), sehingga respons terhadap rangsangan atau informasi yang telah diproses itulah hasil belajar diperoleh.

Jean Piaget mengemukakan bahwa seseorang memiliki tingkatan berfikir sesuai dengan perkembangan usianya. Menurut Piaget perkembangan berfikir itu mulai tingkat sensori motor (0-2th), tingkat pra operasional (2-7th), tingkat operasional kongkrit (7-11th), dan tingkat operasi formal (11-ke atas). Manusia belajar melalui pergaulannya dengan lingkungannya. Dalam pengenalan lingkungan itu, pebelajar melalui tiga tahapan belajar, yaitu tingkat kongkrit, tingkat skematis dan tingkat abstrak.

1.2.2 Landasan Historis Media Pembelajaran

Yang dimaksud dengan landasan historis media pembelajaran ialah rational penggunaan media pembelajaran ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran. Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923. Yang dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada pebelajar.

Kemudian kosep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pebelajar melalui mata dan telinga. Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar Dale.
Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “audio visual communication” pada tahun 1950-an. Perkembangan berikutnya terjadi sekitar tahun 1952 dengan munculnya konsepsi “instructional materials” yang secara kosepsional tidak banyak berbeda dengan konsepsi sebelumnya. Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan konsepsi “instructional materials” adalah “teaching/ learning materials”, “learning resources”.

1.2.3 Landasan Teknologis Media Pembelajaran

Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
  1. Meningkatkan produktivitas pendidikan (Can make education more productive).
  2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education more individual).
  3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran (Can give instruction a more scientific base).
  4. Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
  5. Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more immediate).
  6. Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal).

1.2.4 Landasan Empirik Media Pembelajaran
Pebelajar yang memiliki gaya visual akan lebih mendapat keuntungan dari penggunaan media visual, seperti film, video, gambar atau diagram; sedangkan pebelajar yang memiliki gaya belajar auditif lebih mendapatkan keuntungan dari penggunaan media pembelajaran auditif, seperti rekaman, radio, atau ceramah guru.

TRI SATYA DAN DASA DHARMA

TRI SATYA DAN DASA DHARMA

TRI SATYA DAN DASA DHARMA
TRI SATYA DAN DASA DHARMA

Tri Satya

Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
1. Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjalankan pancasila.
2. Menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat
3. Menepati Dasa Dharma
Pengertiannya :
a. Tri Satya merupakan janj seorang Pramuka yang harus dtepat.
b. Pramuka berjanji dengan Tri Satya, dengan sepenuh kehormatannya dan ia selalu berusaha memenuhi janjinya itu demi kehormatannya semata.
c. Kewajiban kepada Tuhan, jelas ia harus memeluk suatu agama yang dinyakini. Segala ajarannya dilakukan dan segala larangannya dihindarkannya.
d. Kewajiban kepada negara, seorang Pramuka akan selalu berusaha menjunjung tinggi kehormatan dan kewibawaan negaranya (Indonesia) dengan jalan tunduk kepada undang-undang yang berlaku, menghormati benderanya, melaksanakan dasar negaranya menghayati lambang negaranya, mengakui pemerintahannya, dan menghayati lagu kebangsaannya.
e. Mengamalkan Pancasila, dengan jalan melaksanakan dan menjalankan tuntunan tingkah laku dalam ajaran P-4.
f. Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat, sudah dijelaskan dalam uraian Dasa Darma. Sedang mempersiapkan diri untuk membangun masyarakat, seorang penggalang harus mencari ilmu di sekolah dan pengetahuan di masyarakat agar kelak setelah dewasa ia menjadi manusia yang berguna. Segala ketrampilan ia pelajari sebaik-baiknya untuk persiapannya dikemudian hari.


Dasa Darma pramuka

Setiap anggota Gerakan Pramuka wajib memahami isi
dan makna Dasa Darma Pramuka yang merupakan ketentuan moral. Dalam
kegiatan Pramuka di tingkat gugus depan, Dasa Darma menjadi materi
wajib di setiap tingkatan, baik penggalang, ramu, rakit, dan terap.
KALAU dilihat dari isi materi tersebut, ternyata
Dasa Darma memiliki nilai kandungan dalam diri manusia sebagai pribadi
manusia seutuhnya. Metode penghafalan materi tersebut dalam kegiatan
Pramuka sudah banyak yang diperkenalkan oleh para pembina, dengan cara
tersendiri.
Penulis pun sebagai pembina di lapangan memiliki
cara atau pedoman agar siswa dapat menghafal Dasa Darma Pramuka dengan
mudah. Pedoman itu adalah Ta-Ci-Pa-Pat-Re-Ra-He-Di-Ber-Su.
Dasa Darma Pramuka itu
1. Ta: Takwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Sebagai
pribadi yang lemah, kita harus menyembah Tuhan YME. Dia adalah pencipta
yang ada di bumi dan di langit dan segala makhluk yang terlihat maupun
tidak terlihat. Sebagai pribadi lemah dan ciptaan-Nya, kita wajib
menjalankan perintah-Nya. Contohnya, sebagai muslim mengerjakan salat
lima kali sehari semalam, membaca Alquran, puasa, dan lain-lain.
2. Ci: Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
Selain sebagai makhluk pribadi, kita juga sebagai makhluk sosial.
Artinya, makhluk yang tidak bisa berdiri sendiri. Kita perlu teman,
bergaul, bertetangga. Kita tidak bisa hidup tanpa orang lain, kita
memerlukan bantuan orang lain.
3. Pa: Patriot yang sopan dan ksatria. Sebagai
Pramuka, kita harus berperilaku yang sopan. Tindak-tanduk dalam
bersikap dan bertutur kata mesti diperhatikan. Kesopanan melambangkan
pribadi seseorang di tengah-tengah pergaulan dalam masyarakat.
4. Pat: Patuh dan suka bermusyawarah. Dalam situasi
dan kegiatan apa pun, anggota Pramuka wajib taat dan patuh terhadap
aturan yang berlaku, dan dalam kegiatan Pramuka selayaknya
bermusyawarah dalam mengambil keputusan terbaik dan memuaskan.


5. Re: Rela menolong dan tabah. Pramuka senantiasa
rela dalam menolong tanpa membedakan agama, warna kulit, suku, dan
sebagainya, dan harus didasari oleh hati yang ikhlas, tulus, tanpa
diembel-embeli oleh sikap ingin dipuji. Dalam setiap perjuangan itu
seorang anggota Pramuka harus tabah menghadapi gangguan, tantangan,
halangan, dan hambatan.
6. Ra: Rajin, terampil, dan gembira. Anggota Pramuka
itu harus rajin melakukan sesuatu yang positif. Kegiatan ketika ia
berada dalam pembinaan Pramuka harus diimplementasikan dalam kegiatan
sehari-hari. Jangan rajin karena waktu penggodokan dalam kegiatan,
tetapi harus dibuktikan ketika ia di rumah, di sekolah. Dalam
melaksanakan kegiatan itu pun harus dilaksanakan dengan senang dan
gembira.
7. He: Hemat, cermat, dan bersahaja. Ada ungkapan
yang mengatakan “hemat pangkal kaya”. Betul sekali dengan berhemat,
tidak menghambur-hamburkan uang untuk jajan, tidak berhura-hura untuk
kepentingan sesaat merupakan awal menjadi orang kaya. Pramuka harus
cermat dalam pengeluaran uang, memprioritaskan apa yang harus dibeli
atau didahulukan, dan mana yang tidak perlu janganlah dibeli. Meskipun
ia kaya, seorang Pramuka jangan sombong di depan orang lain, jangan
angkuh, bersahaja dalam bergaul.


8. Di: Disipilin, berani, dan setia. Anggota Pramuka
harus hidup dengan disiplin, baik dalam waktu belajar di sekolah,
bermain, dan sebagainya. Kalau Pramuka seperti itu maka hidup tak akan
percuma, tetapi akan berguna dalam mencapai cita-cita. Anggota Pramuka
harus berani karena benar, tetapi takut karena salah. Jangan berani
karena kesalahan, beranilah karena kebenaran. Pramuka harus setia
terhadap janji setianya karena itulah nilai-nilai luhur pribadi manusia.
9. Ber: Bertanggung jawab dan dapat dipercaya.
Setiap anggota Pramuka harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah
ia perbuat, jangan lari, jangan lempar batu sembunyi tangan. Ia harus
konsekuen karena ini adalah modal dari kepercayaan terhadap kita.
10. Suc: Suci dalam pikiran, perkataan, dan
perbuatan. Inilah pribadi manusia yang sejati, bersih pikiran, tidak
ada iri dan dengki.
Jika semua anggota Pramuka memahami itu semua, insya
Allah ia akan menjadi pribadi yang tangguh, bermanfaat bagi diri
sendiri, bangsa, dan negara.


Sumber : www.gurupendidikan.co.id

Mengatasi Stres pada Anak

Mengatasi Stres pada Anak

Stres sanggup menyerang siapa saja, tidak hiraukan usia dan type kelamin. Stres merupakan sebuah suasana ketika seorang individu terasa tidak sanggup memenuhi tuntutan besar yang dibebankan kepadanya. Tekanan tersebut sanggup berasal berasal dari orang lain, lingkungan, ataupun diri kita sendiri. Stres sanggup terhitung terjadi karena ketidakmampuan beradaptasi bersama lingkungan. Awal stres sanggup bersumber berasal dari rasa tidak berarti, rasa tidak berdaya, sampai rasa terpisah berasal dari orang yang dicintai.

Mengatasi Stres pada Anak

Akibat adanya suatu tekanan berasal dari luar dirinya, individu dapat mengusahakan mengatasinya untuk capai suasana seimbang/homeostatis. Bila gagal, ia dapat merasakan suasana psikologi dan fisik yang tidak menggembirakan (stres). Bagi anak-anak, lebih dari satu perihal yang sering menyebabkan anak stres andaikata adalah suasana keluarga (orangtua, perceraian, pola asuh) dan lingkungan sekolah ataupun lingkungan tempatnya bermain.

Stres pada anak

Stres tidak seutuhnya berarti negatif. Stres sanggup mendukung anak mengembangkan keterampilan yang mereka butuhkan untuk beradaptasi bersama suasana dan juga lingkungan baru dan mengasah keterampilan mereka didalam mengatasi masalah. Dukungan berasal dari orang tua dan bagian keluarga lainnya terlampau dibutuhkan anak-anak untuk belajar bagaimana merespon stres bersama langkah yang sehat secara fisik dan psikologis.

Jika tidak dikelola bersama baik, stres dapat menjadi stres negatif. Oleh karena itu, bagi teman-teman pembaca 1000guru yang berperan sebagai kakak yang mempunyai adik, atau mungkin telah menikah dan saat ini menjadi calon orang tua, mari kita kenali gejala-gejala stres yang mungkin menjangkiti anak-anak. Dengan demikian, mudah-mudahan kita sanggup mendukung mereka meredakan stresnya dan menjadikannya sebagai stres yang positif.

Pada anak 0-5 th. gejala stres di antaranya:

Mengisolasi diri (menarik diri) berasal dari anak-anak lain.
Mudah gelisah, gampang tersinggung, lesu, malas, atau agresif.
Tantrum dan sering menangis.
Pertumbuhan badan kurang.
Regresi (mengalami kemunduran) berasal dari tahapan perkembangan sebelumnya. Misalnya, biasanya tidak mengompol menjadi sering mengompol
Duduk/berdiri di sudut tertentu.
Menggigit pakaian atau menggigit jari.
Malu tanpa alasan, takut.
Murung, mimpi buruk.
Sementara itu, pada anak usia 6-10 th. gejala stres di antaranya adalah sering menangis, tidak berkenan sekolah, murung, berani berbohong, terlampau aktif, senang berkelahi, tidur terganggu, menginginkan kabur berasal dari rumah, sukar mengalah, dan banyak mengeluh.

Anak kadang waktu belum sanggup mengungkap apa yang dia rasakan, namun apa yang terjadi padanya sanggup nampak berasal dari tabiat sehari-hari. Salah satu perihal yang perlu adalah mengamati perubahan tabiat atau tradisi anak. Sebagai contoh, seorang anak yang ramah dan pendiam tiba-tiba menjadi senang berdebat bersama teman-temannya. Kemungkinan nampak tabiat tersebut karena dia tengah mengalami stres. Jika tidak diatasi, stres pada anak sanggup berakibat jelek pada perkembangan anak selanjutnya.

Apa yang kudu kita lakukan?

Pertama yang kudu dikerjakan adalah menerima tabiat anak. Sebagai contoh, tidak ada gunanya memarahi anak ketika ia menghisap ibu jari. Memarahi tidak dapat menghentikan tabiat tersebut. Untuk menghentikannya dibutuhkan metode khusus, namun pada mulanya kudu selesaikan stresnya terutama dahulu. Anak dapat tetap menghisap jari ketika dia terasa stres dan tertekan. Itu merupakan caranya untuk meredakan kegelisahan dan ketakutan. Setelah sesaat menerima perilakunya, kita sanggup perlahan berkomunikasi dan memberikan masukan.

Contoh lainnya, ketika stres seorang anak yang tidak menginginkan makan sebaiknya tidak dipaksa untuk makan. Jika dipaksa, perihal itu tidak dapat berefek ia makan bersama baik. Ketika kita lihat tabiat yang tidak biasa (gejala stres muncul), kita kudu tetap dekat dengannya dan memberi kenyamanan kepadanya. Yakinkan, bahwa kita terlampau hiraukan dengannya.

Hal-hal yang sanggup mendukung anak mengelola stres, antara lain:

Bantulah anak bicara tentang apa yang mengganggu mereka.
Jangan memaksa mereka untuk berbicara, namun tawarkan peluang pada saat santai.
Tidak banyak mengkritik dan memarahi anak.
Membangun suasana tempat tinggal dan lingkungan yang hangat.
Mengajaknya beraktivitas fisik. Misalnya berlari di taman bersama orangtua ataupun kakak-kakaknya, mengajak jalan-jalan sembari bercerita.
Luangkan saat spesifik untuk menemani anak bermain/belajar, jalankan hal-hal yang disukainya.
Mendorong anak untuk makan sehat.
Ajarkan anak-anak bersama kalimat positif.
Berikan pelukan hangat. Hal ini sanggup meredakan stres pada anak.
Selain poin-poin di atas, kita sanggup terhitung mengajak anak bermain peran yang di dalamnya ada cerita tentang menghadapi stres. Bisa terhitung bersama mendongeng yang mengandung unsur edukasi. Sebagai contoh, kalau anak was-was bersama suasana baru, kita sanggup ceritakan kisah tentang bagaimana kita dulu terasa didalam suasana yang serupa dan apa yang kita jalankan untuk mengatasinya.

Penting terhitung untuk mengubah pola asuh yang menyebabkan stres pada anak. Secara umum, pola asuh orang tua terdiri berasal dari 3 macam:

Otoriter, orang tua tidak memberi anak kebebasan dan memaksa anak sehingga memenuhi tuntutan orang tua apalagi menganiaya anaknya.
Permisif, yakni orang tua terlampau melepaskan anaknya biarpun seorang anak belum sanggup menyebabkan ketetapan bersama tepat dan melepaskan kekeliruan anak.
Otoritatif, yakni orang tua memilih bersama tahu konsekuensi berasal dari tiap-tiap tindakan yang diambil, mereka tidak mengekang anak secara berlebihan terhitung tidak membebaskannya, namun konsisten memberi perhatian pada anak dan mengusahakan membentuk anak yang mandiri.
Pola asuh otoritatif adalah langkah yang paling baik untuk membentuk kepribadian anak. Stres sanggup terjadi pada anak andaikata dia terasa tidak sanggup memenuhi tuntutan orang tuanya (yang bersikap otoriter) ataupun karena dia kudu mengalami konsekuensi jelek akibat kekeliruan ketetapan yang diambilnya (karena orang tua terlampau permisif).

sumber : https://www.ruangguru.co.id/

Belajar Menulis Sambung, Masihkah Dibutuhkan?

Belajar Menulis Sambung, Masihkah Dibutuhkan?

Belajar Menulis Sambung Di SD, Masihkah Dibutuhkan Saat Ini?

Siapa sih yang tak kenal bersama teknik menulis sambung? Generasi zaman dahulu justru lebih banyak gunakan tulisan sambung dalam kehidupan sehari-hari. Karena tiap-tiap kata bisa ditulis bersama satu kali gerakan tangan, menulis sambung dianggap menghemat waktu.

Belajar Menulis Sambung, Masihkah Dibutuhkan

Sejarah Teknik Menulis Sambung

Menulis sambung yang juga dikenal bersama makna menulis kursif adalah teknik menulis yang sudah dikembangkan sejak abad ke-14 pada era renaissance di kawasan Eropa. Teknik menulis sambung pada era itu juga sempat berkembang menjadi teknik baru yang disebut copperplate handwriting. Teknik copperplate handwriting adalah teknik menulis sambung bersama bentuk huruf yang lebih kompleks dan lebih indah daripada huruf sambung biasa.

Pada awal abad ke-20, para pendidik beranggapan bahwa murid dapat lebih enteng mempelajari teknik tulisan tangan, apabila bentuk tulisan tangan selanjutnya menyerupai bentuk huruf cetak yang tersedia pada buku pelajaran. Namun, beberapa th. sesudah itu pendidik mengetahui bahwa tulisan bersama huruf cetak kurang efisien untuk mendukung tumbuh kembang murid-murid.

Akhirnya, teknik menulis di tingkat SD kembali mengacu pada teknik menulis sambung yang dipelajari sejak abad ke-19. Teknik menulis sambung yang diajarkan memadai bervariasi, mulai berasal dari teknik konvensional hingga teknik kursif bersama bentuk huruf yang lebih miring.

Manfaat Menulis Sambung

Tidak hanya sekadar teknik menulis yang lebih kompleks berasal dari teknik menulis huruf cetak, teknik menulis sambung ternyata mengimbuhkan banyak manfaat bagi tumbuh kembang murid-murid selama era belajar.

Manfaat menulis sambung bagi murid pada lain adalah:

Mengembangkan kebolehan motorik murid
Memperluas wawasan murid untuk mengenal ragam style tulisan
Menjadi tidak benar satu layanan pelajaran seni
Meningkatkan perbendaharaan kata
Membantu murid mengidentifikasi perbedaan huruf secara lebih spesifik
Melatih murid untuk mengontrol emosi
Meningkatkan kebolehan mengeja
Mempercepat sistem menulis
Untuk penjelasan manfaat lebih detailnya, silakan menyimak infografis.

Waktu yang Tepat untuk Belajar Menulis Sambung

Belajar menulis sambung bisa mulai dikerjakan sejak taman kanak-kanak sesudah murid sudah fasih mengetahui dan menulis huruf cetak. Selanjutnya, dasar-dasar pembelajaran menulis sambung di taman kanak-kanak bisa dilanjutkan pada tingkat kelas 1 hingga kelas 6 SD. Proses studi menulis sambung selama berada di tingkat SD bukan hanya mempunyai tujuan untuk membiasakan murid bersama teknik menulis sambung, tapi juga untuk melatih kerapian dan kecermatan selagi menulis.

Setiap goresan tangan pada teknik menulis sambung bisa meminimalkan terjadinya kekeliruan penulisan jikalau dibandingkan bersama teknik menulis huruf cetak. Oleh gara-gara itu, membimbing murid untuk berpikir secara cermat, sistematis dan efisien bisa dikerjakan melalui sistem pembelajaran menulis sambung di kelas. Setelah murid berhasil mengidentifikasi perbedaan bentuk huruf dan langkah menulis bersama benar, maka menentukan untuk selamanya menulis sambung atau menulis huruf cetak bukanlah hal yang patut dipermasalahkan.

Kendala yang Menghambat Proses Belajar Menulis Sambung

Salah satu kasus yang dihadapi dunia pendidikan moderen di Indonesia adalah kurangnya perhatian guru SD pada langkah menulis dan bentuk tulisan para murid. Proses pendidikan selagi ini hanya berorientasi pada pencapaian nilai yang memuaskan tanpa menyimak faktor mutlak lainnya layaknya pertumbuhan psikologi dan pola pikir murid. Itulah mengapa teknik menulis sambung maupun teknik menulis huruf cetak tidak dimengerti bersama baik oleh para murid SD.

Kendala tentang teknik menulis sambung yang baik dan benar turut diperparah oleh kecanggihan teknologi. Berbeda bersama murid SD beberapa th. yang lalu, murid SD era kini cenderung lebih miliki kebiasaan gunakan perangkat gadget berteknologi touch screen atau keyboard daripada menulis bersama rapi dan teliti. Hasilnya, sudah tentu murid SD lebih fasih mengetik atau gunakan rancangan touch screen daripada menulis bersama tangan. Menulis bersama tangan mulai sukar dan melelahkan gara-gara murid-murid tidak miliki kebiasaan melakukan hal tersebut.

Pengalaman Belajar Menulis Sambung

Mempelajari teknik menulis sambung kala penulis tetap duduk di bangku SD mulai terlampau sukar dan mengambil waktu. Murid-murid SD, tentu sering kebingungan dapat manfaat buku bergaris tiga yang mesti digunakan tiap-tiap hari. Menulis kalimat-kalimat yang membosankan sudah menjadi kebiasaan selagi studi bahasa Indonesia.

“Pikir itu pelita hati.”

“Hendri bahagia makan sayur bayam.”

“Ibu pergi ke pasar belanja ikan.”

Semakin panjang kalimat yang dijadikan PR menulis sambung, dapat tambah mulai sukar bagi para murid. Namun, sesudah sekian th. tamat berasal dari SD, barulah penulis mengetahui bahwa kalimat-kalimat simpel itulah yang secara tidak langsung mendukung keluwesan tangan dan pertumbuhan pola pikir menuju langkah kematangan mental.

Penilaian dan evaluasi berasal dari guru kala melihat tulisan murid-muridnya mulai kelihatan tak beraturan adalah didikan disiplin yang memicu murid-murid menjadi lebih disiplin dan teliti. Bahkan selagi itu, guru mengimbuhkan konsekuensi yakni pemotongan nilai ulangan atau nilai PR jikalau tulisan murid-muridnya kelihatan bak sandi rumput yang sukar dibaca.

Di selagi hati mulai gelisah gara-gara bel istirahat yang tak kunjung berbunyi atau mulai sedih dan kecewa gara-gara baru saja dikritisi sang guru, tulisan sambung selamanya mesti bagus dan rapi. Pelajaran simpel ini bisa mendidik murid-murid memelihara kestabilan emosi dan memproduksi rasa selagi melakukan segala sesuatu. Tidak tersedia toleransi untuk tiap-tiap perasaan atau keluhan yang sedang dialami, gara-gara dunia pekerjaan di era depan hanya dapat menerima privat yang berjiwa santun dan profesional.

Bentuk tulisan tangan sebenarnya bisa beralih bersamaan perubahan selagi dan pertumbuhan pola pikir. Akan tetapi, tujuan untuk melatih kerapian, kestabilan dan konsistensi yang ditanamkan sejak berada di tingkat SD dapat selamanya menjadi pedoman berharga di era depan.

Kemendikbud Minta Tonjolkan Karakter Nasionalisme Anak PAUD

Kemendikbud Minta Tonjolkan Karakter Nasionalisme Anak PAUD

 

Probolinggo, Kemendikbud — Menteri Pendidikan & Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy merespons cepat beredarnya video tentang sebuah karnaval pada Kota Probolinggo yg ramai diperbincangkan pada media sosial. Dalam video yg viral semenjak Sabtu (18/8/2018) itu, masih ada anak-anak TK Kartika V-69 memakai kostum bercadar & menenteng replika senjata laras panjang. Usai kunjungan kerja di Surabaya dalam Minggu (19/8/2018), Mendikbud eksklusif menuju Probolinggo buat memastikan kebenaran video tadi.

Kemendikbud Minta Tonjolkan Karakter Nasionalisme Anak PAUD
Kemendikbud Minta Tonjolkan Karakter Nasionalisme Anak PAUD

Sesampainya pada Kota Probolinggo, Mendikbud eksklusif melakukan obrolan menggunakan Kapolres Probolinggo Ajun Komisaris Besar Alfian Nurrizal, Dandim 0820 Probolinggo Letnan Kolonel Kav. Depri Rio Saransi, dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Probolinggo Moch. Maskur. Hadir pula pada obrolan tersebut, Ketua Panitia Pawai Budaya, Supini, & Kepala Sekolah TK Kartika V-69 Probolinggo, Hartatik.

Karnaval pada video yang tersebar pada media sosial itu digelar pada rangka pawai budaya memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Probolinggo. Tetapi, banyak warganet yang berkomentar mengaitkan video ini menggunakan dugaan radikalisme yang sudah masuk di kalangan anak-anak PAUD.

Kedatangan Mendikbud ke Probolinggo buat melakukan pengecekan warta, sebagai bukti seriusnya perhatian pemerintah pada masalah radikalisme pada kalangan anak-anak. Selain itu, hal ini memperlihatkan bahwa Mendikbud tidak gampang percaya dengan keterangan negatif yg tersebar pada media umum, & segera melakukan cek dan ricek.

“Saya menganggap ini serius dan ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Jangan sampai kita hanya percaya warta berdasarkan medsos yg mungkin saja telah terdistorsi, nir utuh,” ujar Mendikbud di Probolinggo, Minggu (19/8/2018).

Dalam keterangannya usai berdialog menggunakan pihak terkait, Mendikbud menyatakan apresiasinya pada panitia pawai budaya yang mengambil tema kebinekaan. Namun, beliau menyayangkan penggunaan atribut anak-anak yg menunjuk dalam kekerasan dan radikalisme. “Tidak tepat jika anak-anak dikenalkan atribut seperti ini,” tegasnya.

Kepada kepala sekolah TK Kartika V-69, Hartatik, Mendikbud berpesan agar nilai-nilai karakter nasionalisme lebih banyak ditonjolkan kepada anak-anak usia dini. Dalam pawai budaya, sebaiknya memakai atribut-atribut budaya Indonesia yg sangat majemuk. ”Masyarakat Probolinggo dikenal sangat religius, bisa saja memakai atribut keislaman yang lebih ramah, menonjolkan kedamaian dan toleransi,” tuturnya.

Ia juga kembali menegaskan pada warga luas bahwa pada kegiatan belajar mengajar di sekolah sama sekali nir terdapat pelajaran radikalisme. Pakaian-pakaian yg dikenakan anak didik juga guru sehari-hari bukanlah bercadar misalnya dalam pawai tersebut. Mendikbud konfiden menjadi Taman Kanak-kanak binaan tentara yang murid-muridnya sebagian besar juga putra putri tentara mengajarkan nasionalisme menggunakan baik.

Untuk itu Mendibud berpesan agar rakyat nir gampang terprovokasi & mendistorsi fakta melalui media umum menggunakan mengunggah hanya potongan video maupun foto pawai budaya tersebut. Anak-anak yg menjadi sentra perhatian dampak video tadi saat ini merasa terganggu & tertekan karena dipersalahkan. “Mohon orang tua & pengajar mendampingi anak-anak supaya bisa berteman secara normal,” imbau Mendikbud.

Ia pula berharap supaya Taman Kanak-kanak Kartika V-69 lebih poly membuka diri pada warga sekitar. Taman Kanak-kanak yang memiliki 55 murid dan 15 pengajar itu dinilainya masih dapat menampung lebih poly siswa. Untuk itu Kementerian Pendidikan & Kebudayaan (Kemendikbud) menaruh bantuan sebanyak Rp25 juta buat diberikan kepada calon-calon siswa menurut kalangan kurang mampu yg tinggal di kurang lebih sekolah. “Mohon dana ini dimanfaatkan buat menambah akses anak-anak tidak mampu di sekitar TK ini supaya bisa bersekolah pada sini,” ujar Mendikbud. sumber : www.kuliahbahasainggris.com

Tips Mudah Mendidik Anak di Usia 3 Tahun yang Benar

Pada saat anak Anda berusia 3 tahun, maka Anda sudah bisa mengajari atau pun mendidik dia. Bahkan di usia ini Anda sudah bisa membaca suasana hatinya dan menanggapi berbagai kebutuhannya secara cepat.

Tips Mudah Mendidik Anak di Usia 3 Tahun yang Benar
Tips Mudah Mendidik Anak di Usia 3 Tahun yang Benarv

Dia pun sudah bisa memahami Anda dengan sangat baik. dia tahu bahwasannya rasa cinta Anda padanya tanpa syarat dan walaupun terkadang Anda tak menyukai perilakunya, Anda akan selalu mencintai dan menyayanginya sampai kapan pun.

Tips mudah mendidik anak di usia 3 tahun yang benar

Mampu mandiri

Anak dengan usia 3 tahun ini akan mulai hadapi sebuah tantangan yang nantinya akan bertahan selamanya, yakni jadi mandiri. Tahapan tersebut akan berlangsung selama bertahun-tahun lamanya disaat dia coba tugas-tugas yang makin kompleks, mulai dengan mencuci serta berpakaian, kemudian akan berangsung-angsur mulai buat keputusan sendiri. Dia uji keterbatasan koordiniasi gerak dan pemikirannya, jadi Anda akan temui banyak letupan frustasi pada saat dia terus mencoba tiap tugas baru. Namun, dia akan cepat kuasai tugas-tugasnya bila Anda dengan tenangnya memberi sedikit bantuan tanpa ambil alih.

Mempunyai teman

Anak usia 3 tahun sudah bisa jalin pertemanan dan juga bermain dengan anak lain seumurannya. Lewat tempat penitipan, teman, atau kerabat dia mempunyai kontak secara rutin dengan kelompok anak seumurannya serta mulai condong bergaul dengan anak-anak yang dia suka. Dia akan mulai membangun hubungan lewat kerja sama bersama teman-temannya dalam permainan dan juga kegiatan sederhana yang sudah diatur oleh oang dewasa di sekitarnya. Sebab baru belajar cara untuk berbagi, dia masih perlu diawasi supaya terhindar dari perebutan mainan serta perlu didorong juga untuk bergiliran.

Anak yang pemalu

Sifat yang ramah atau pun pemalu pada anak ini sungguh sangat bervariasi. Tak mengherankan bila sebagian dari sekelompok anak usia 3 tahun adalah pemalu serta lebih senang bermain sendiri, sementara itu sebagian lainnya mempunyai kepribadian lebih aktif serta social. Sifat pemalu bukan hal yang harus dipermasalahkan, sebab yang demikian ini bisa saja hanya cerminkan temperamen dan preferensi anak Anda. Sifat pemalu ini juga bisa diturunkan atau pun dikarenakan anak meniru sikap Anda pada dunia. Dan mungkin saja anak yang pemalu ini butuh bantuan tambahan untuk berbaur dengan anak lainya serta untuk merasa lebih percaya diri lagi dalam berbagai situasi baru.

Dan yang terakhir adalah berkembangannya rasa humor, dan kemampuan ini tentunya akan membuatnya lebih mudah berhubungan dengan anak lainnya. Demikianlah tadi yang dapat kami informasikan untuk Anda semuanya tentang tips mudah mendidik anak di usia 3 tahun yang benar. Semoga bermanfaat. referensi  https://www.sekolahbahasainggris.com/

Tips Mengajar Anak Autis Untuk Tenaga Pengajar Anak Autis

Mengajar anak autis? Memang banyak para pengajar yang mengeluh ketika harus mengajar anak autis. Bahkan ada juga yang sampai frustasi dan tidak mau kembali mengajar. Fenomena yang seperti ini harusnya dihindari bagi tenaga pengajar karena semangat untuk mengubah Indonesia yang harusnya di kedepankan.

Tips Mengajar Anak Autis Untuk Tenaga Pengajar Anak Autis
Tips Mengajar Anak Autis Untuk Tenaga Pengajar Anak Autis

Harusnya rasa ikhlas dan rasa berjuang untuk semakin menjunjung kemerdekaan bagi anak autis di maksimalkan agar nantinya Indonesia menjadi sebuah negara yang memang dunia pendidikannya merata termasuk untuk anak autis karena sadar atau tidak mereka yang autis juga perlu pendidikan demi masa depannya yang lebih baik. Lalu seperti apa tips mengajar anak autis yang perlu diterapkan dan dipahami tenaga pengajar anak autis? Yuk kita sama – sama membahas tentang hal ini J

Tips Mengajar Anak Autis 

Jangan lakukan modifikasi jadwal

Anda harus tahu dan paham bahwa anak – anak autis tak suka variasi karena mereka lebih suka atas suatu kebiasaan yang berlaku berulang – ulang dalam hidupnya. Karena itu ada baiknya untuk Anda jangan pernah melakukan modifikasi jadwal yang malah hal ini dapat membuat anak autis mengalami kebingungan untuk beradaptasi dengan jadwal yang berubah.

Pilih gaya belajar yang tepat

Anda tentu harus tahu dan paham bahwa setiap anak punya gaya belajar tertentu. Bahkan beberapa anak juga mungkin akan jauh lebih cepat dalam menyerap informasi dengan cara mendengar, sementara anak yang lain cenderung berfokus pada gaya belajar visualnya.

Gunakan bahasa yang sederhana ketika mengajar

Menggunakan kata – kata sederhana dan juga kalimat pendek ketika melakukan komunikasi dengan anak – anak autis memang sangat dianjurkan. Kalimat yang panjang serta kompleks tak dianjurkan karena malah dapat membuat anak jadi bingung.

Gunakan objek belajar yang menarik

Biasanya anak – anak autis memang cenderung memiliki mainan yang menjadi favoritnya untuk menemani aktivitas hariannya. Anda bisa mencoba menggunakan mainan favorit tersebut sebagai salah satu teknik untuk mengajar mereka. Jika memang anak punya mainan favorit berupa mobil Anda dapat bercerita tentang kisah yang melibatkan mobil atau juga bisa menggunakan mainan dengan warna cerah untuk merangsang rasa ingin tahunya.

Tangani masalah menulis anak autis

Sebagian besar anak autis memang akan menghadapi masalah dengan keterampilan motorik mereka. Nantinya anak autis juga tidak akan mengendalikan tangan sehingga mereka akan kesulitan untuk dapat menulis secara rapi. Hal ini nantinya juga akan membuat anak autis merasa putus asa dengan kondisi mereka. Karena itu agar bisa mengatasi hal ini ada baiknya untuk meminta anak mengetik di komputer atau pada laptop.

Demikian sedikit informasi yang kami dapat berikan untuk Anda. Dan semoga informasi diatas tentang Tips Mengajar Anak Autis menjadi informasi yang bermanfaat.  sumber : www.dosenpendidikan.com

 

Mengetahui Kemampuan Linguistik pada Anak

Perlu Anda tahu nih, bahwasannya di era global dan juag digital seperti sekarang ini, Anda akan lebih sering sekali temukan anak-anak kecil yang mahir berbicara dengan bahasa asing, khususnya untuk basaha Inggris. Hal yang demikian ini terkadang menjadikan Anda sangat kagum akan kemampuan yang mereka miliki. Pastinya bagi orangtua dengan anak pandai berbahasa asing seperti itu akan merasa sangat bangga dan bahagia.

Mengetahui Kemampuan Linguistik pada Anak
Mengetahui Kemampuan Linguistik pada Anak

Jika memperhatikan tuntutan globalisasi yang memungkinkan bagi anak untuk beriteraksi dengan dunia luar yang lebih luas, penguasaan dua bahasa tersebut memang sangat perlu dimiliki bagi anak-anak. Akan tetapi, pastinya ada beberapa aspek yang harus diperhatikan bagi para orangtua sebelum akhirnya menggunakan bilingual sejak anak usia dini.

Serba-serbi kemampuan linguistic pada anak

Smart language adalah kecerdasaan yang lebih menekankan kepada kemampuan menggunakan kata-kata dan juga bahasa di dalam kegiatan berbicara, membaca, dan juga menulis. Yang mana menurut Dr. Rosemini A.P. MPsi kemampuan yang satu ini nantinya akan membantu sih anak untuk dapat memahami informasi atau pun instruksi yang telah disampaikan.

Selain itu, menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Dr. Paul Thompson bahwasannya otak berkembang ikuti pola tertentu. Yang mana usia 3 hingga 6 tahun yang berkembang adalah obat pada bagian depan, usia 6 hingga 13 tahun yang berkembang adalah otak pada bagian belakang, termasuk halnya untuk perkembangan bahasa. Apa artinya? So, usia 6 hingga 13 tahun ini merupakan masa yang paling efektif sekali untuk belajar bahasa, khususnya untuk second language.

Untuk bisa wujudkan hal tersebut, ada beberapa cara terbaik yang bisa orangtua lakukan, yang mana orangtua harus bisa mempertimbangkan kebutuhan keluarga dan juga kebutuhan sih anak itu sendiri sebelum akhirnya tentukan menggunakan bilingual. Ukurlah kebutuhan dan juga kemampuan diri dari sih anak. Orangtua juga seharusnya siap bealajr dan juga kembangkan kemampuan bahasa kedua supaya dapat memperlancar perkembangan bahasa bagi anak. Dalam hal yang satu ini sangat dianjurkan juga bagi para orangtua untuk tak hanya andalkan institusi sekolah atau pun tempat kurus maupun  les saja untuk ajarkan kemampuan bahasa anak.

Hasil dari penelitian pakar perkembangan otak, Huttenlocher, Jusyck, dan juga Kuhl juga sebutkan bahwasannya usia 6 hingga 12 bulan bayi bisa kenali pola bicara orang yang ada di sekelilingnya. Bayi pun bisa mampu kenali kata-kata yang sering diucapkan orang di sekelilingnya. Ini artinya, makin seringnya orang-orang terdekatnya berbicara pada sih kecil, maka makin kaya pula perbendaharaan kata yang didapatkan.

Demikianlah informasi yang dapat kami bagikan tentang kemampuan linguistic pada anak. Semoga saja bisa bermanfaat. referensi : https://www.gurupendidikan.co.id/contoh-surat-kuasa/