Mengenal Mekanisme Kerja Otot

Mengenal Mekanisme Kerja Otot

Kalian bahagia olahraga nggak, sih? Nah, umumnya disaat olahraga, salah satu perihal yang di idamkan yakni untuk menguatkan pada anggota otot. Baik, itu pada anggota lengan, perut, maupun kaki. Apakah kamu termasuk begitu? Tapi, sebenarnya kamu menyadari nggak bagaimana mekanisme kerja otot? Yuk, kami bahas bersama!

Mengapa kami bisa bergerak? Well, gara-gara didalam tubuh kami terdapat alat gerak aktif berwujud otot dan alat gerak pasif yang bernama tulang. Oleh gara-gara itu, tulang bisa bergerak gara-gara otot. Lalu, bagaimana cara otot bisa mobilisasi tulang-tulang? Karena adanya kontraksi dan relaksasi otot.

Kontraksi otot adalah kondisi sementara otot menegang dan memendek sehingga kemudian bisa mobilisasi tulang atau rangka tubuhmu. Lalu, relaksasi itu kebalikannya dong? Yap! Relaksasi adalah kondisi disaat otot kembali memanjang. Jangan lupa, ya! Kontraksi = memendek, relaksasi = memanjang. Oh iya, otot yang sebabkan rangka bergerak disebut bersama dengan otot rangka. Unit fungsional berasal dari otot rangka disebut bersama dengan sarkomer, yang tersusun oleh aktin dan miosin.

Wah, apa kembali tuh aktin dan miosin? Aktin adalah protein pembentuk filamen halus. Aktin ini ada 2 untai, lho. Di didalam aktin ada protein troponin dan tropomiosin. Selain itu, termasuk ada segi untuk pengikatan miosin. Kalau miosin itu apa, temannya aktin? Miosin adalah protein pembentuk filamen tidak tipis yang bertugas menarik aktin disaat kontraksi otot terjadi. Wah, jadi mereka bekerja sama gitu, ya? Betul! Mereka bekerja sama sehingga kami bisa bergerak, nih.

Selain aktin dan miosin, sarkomer ini punya daerah-daerah lain di dalamnya, lho. Ada empat daerah, namanya Pita I, Pita A, Zona H, dan Garis Z. Apa aja sih yang ada di situ? Pada Pita I cuma ada aktin di dalamnya. Sementara itu, Pita A punya aktin dan miosin sekaligus. Lalu, Zona H cuma punya miosin saja. Nah, Garis Z itu apa, ya? Garis Z itu penghubung antar sarkomer. Jangan sampai tertukar, ya! www.biologi.co.id

Pentingnya Kursus Online bagi Kemajuan Karier Anda

Pentingnya Kursus Online bagi Kemajuan Karier Anda

Rekan Kerja, pernahkah Anda berpikir untuk mengembangkan keahlian atau minat Anda? Walaupun Anda sudah bekerja, bukan artinya kapabilitas diri Anda perlu terhenti terhadap bidang pekerjaan Anda saja lho, Rekan Kerja. Dalam jaman digital sekarang, akses terhadap kursus online untuk mengembangkan keahlian Anda terlampau ringan dijangkau. Anda hanya butuh smartphone dan akses internet tanpa perlu berada di suatu area tertentu.

Tidak perlu membawa dampak jadwal tertentu untuk mengembangkan keahlian. Setiap pas bisa jadi pas yang tepat.

Kursus online tidak menghambat kegiatan utama Anda. Anda bisa melakukan kursus online baik di sela-sela kegiatan Anda di kantor atau lebih dari satu menit sebelum beranjak ke area tidur. Fleksibilitas merupakan kelebihan yang di tawarkan oleh kursus online. Kursus online sangat mungkin Anda untuk mendalami suatu bidang kompetensi kapan dan di mana saja. Pada pas yang sama, kepentingan untuk mengembangkan diri selamanya terpenuhi. Alasan di bawah ini jadi pendorong Anda untuk selamanya mematangkan kapabilitas dan keahlian Anda:

1. Industri Selalu Bergerak bersama dengan Cepat

Rekan Kerja, pasti Anda tahu bahwa industri berbentuk dinamis. Hal berikut mengharuskan Anda untuk mengimbangi ritmenya, terutama kecuali peran Anda di kantor terlampau penting, maka tuntutan untuk utamakan urusan perusahaan makin kuat.

Manajemen dapat berpikir dua kali untuk berikan Anda pelatihan sambungan yang pelaksanaannya kuras waktu. Namun, bersama dengan kursus online semua teratasi: performa kerja Anda tidak terganggu dan kompetensi Anda tetap berkembang.

2. Persaingan Kerja Mesti Dihadapi

Indonesia dapat mengalami ledakan masyarakat umur produktif terhadap 2020-2030. Dapatkah Anda berkhayal kompetisi kerja yang tersedia nanti? Jika pas ini saja sudah jadi terlampau ketat? Menghadapi kompetisi kerja pasti bukanlah pilihan paling baik Anda ya, Rekan Kerja. Mengembangkan keahlian dan kapabilitas Anda bisa membantu Anda untuk menyiapkan diri dalam bersaing di dunia kerja.

3. Jika Hanya Fokus Bekerja, Maka dapat Tertinggal

Pernahkah Anda berkhayal mempunyai karier yang mentok hanya terhadap urusan yang itu-itu saja? Pekerjaan monoton yang Anda melakukan tiap-tiap hari. Pada kenyataannya, tiap-tiap orang berhak mempunyai karier yang tetap berkembang. Pastikan bahwa Anda selamanya mempunyai peluang untuk mendalami berbagai bidang kompetensi dan pertumbuhan dalam karier Anda.

4. Selalu Ada Hal Baru untuk Dipelajari

Di jaman pertumbuhan teknologi layaknya sekarang, banyak perihal baru yang bermunculan. Mempelajari dan tahu hal-hal berikut bersama dengan memaksimalkan faedah teknologi informasi dapat terlampau membantu sistem belajar lho, Rekan Kerja. Kursus online bersama dengan pola mobile learning merupakan satu-satunya cara kami agar tidak tertinggal hal-hal baru. www.gurukelas.co.id

Mengenal Awal Mula Sistem Klasifikasi Mahkluk Hidup

Mengenal Awal Mula Sistem Klasifikasi Mahkluk Hidup

Bagaimana kesibukan belajarnya di sekolah? Hmm biasanya terkecuali di sekolah, kamu ikutan kesibukan ekstrakurikuler nggak, sih? Kegiatan tersebut biasanya diklasifikasikan sesuai bersama dengan minat dan bakatmu masing-masing kan ya? Hmm tahukah kamu, ternyata klasifikasi ini nggak hanya ada di kesibukan ekstrakurikuler, tapi juga berjalan terhadap mahkluk hidup. Ada 5 sistem klasifikasi mahkluk hidup yang wajib kamu pelajari. Kelima proses tersebut adalah klasifikasi proses 2 kingdom, klasifikasi proses 3 kingdom, klasifikasi proses 4 kingdom, klasifikasi proses 5 kingdom, dan klasifikasi proses 6 kingdom. Untuk bocorannya, menyaksikan gambar di bawah ini dulu, yuk!

Menurut proses 2 kingdom, hanya ada 2 group mahkluk hidup yang diakui terhadap masa ini, yaitu hewan (animalia) dan tumbuhan (plantae). Kelompok hewan merupakan mahkluk hidup yang tidak mampu memicu makanan sendiri dan butuh mahluk hidup lain untuk sediakan makanannya. Selain itu, group ini juga mampu berubah area bersama dengan cara bergerak. Coba, menurutmu, mahkluk hidup apa sih yang mampu menunjang group hewan sediakan makanannya? Yap! Kelompok tumbuhan!

Lalu, bagaimana bersama dengan group tumbuhan? Kelompok tumbuhan merupakan group yang mampu memicu makanan sendiri bersama dengan lakukan proses fotosintesis dan pertolongan sinar matahari. Meskipun demikian, group ini tidak mampu berubah area seperti group hewan. Mereka hanya mampu lakukan gerak terbatas, seandainya ikuti kemana arah sinar matahari.

Setelah sebelumnya mahkluk hidup hanya terdiri dari 2 kelompok, sekarang group tersebut berkembang jadi 3. Kira-kira nama sistemnya apa, ya? Tul banget! Nama sistemnya adalah proses 3 kingdom. Menurut proses ini, berdasarkan cara mendapatkan makanan, mahkluk hidup dibagi jadi 3 group yang berbeda. Ketiga group tersebut adalah jamur (fungi), tumbuhan (plantae), dan hewan (animalia).

Lalu, bagaimana ya cara ketiga group tersebut mendapatkan makanan? Kelompok jamur mampu mendapatkan makanan bersama dengan menguraikan area hidupnya lalu menyerap nutrisi yang disediakan oleh area hidupnya. Lalu, bedanya apa bersama dengan group tumbuhan? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, group tumbuhan ini mendapatkan makanan bersama dengan lakukan fotosintesis. Oleh dikarenakan itu, mereka mampu memproduksi makanannya sendiri, ya. Kelompok yang tidak mampu mendapatkan makanan sendiri itu adalah group hewan. Mereka mendapatkan makanan bersama dengan cara memangsa hewan lain.

Pada proses klasifikasi 4 kingdom, dasar klasifikasi yang digunakan adalah keberadaan membran inti sel. Oleh dikarenakan itu, group mahkluk hidup terhadap proses ini dibagi berdasarkan ada atau tidaknya membran inti sel. Organisme yang tidak miliki membran inti sel disebut bersama dengan prokariota, tetapi organisme yang miliki membran inti sel dikenal sebagai eukariota.

Kelompok jamur, tumbuhan, dan hewan yang telah ada terhadap proses klasifikasi sebelumnya dikategorikan sebagai eukariota didalam proses klasifikasi ini. Lalu, group apa dong yang dikategorikan sebagai prokariota? Kelompok tersebut namanya monera, atau yang biasa kami kenal bersama dengan sebutan bakteri.

Sistem klasifikasi mahkluk hidup setelah itu disebut bersama dengan proses 5 kingdom. Sistem ini ditemukan oleh Robert H. Whittaker (1969). Klasifikasi terhadap proses ini disusun berdasarkan struktur organisasi internal sel, struktur organisasi sel, dan jenis nutrisi sel. Wah, beda ulang dong ya? Bedanya di mana, ya?

Menurut proses klasifikasi 5 kingdom, ada kategori baru yaitu protista. Protista ini antara lain meliputi protozoa dan ganggang. Selain protista, ada juga monera yang meliputi bakteri dan ganggang hijau biru, fungi yang meliputi cendawan, plantae yang isinya bryophyta, pteridophyta dan spermatophyte, serta animalia yang beranggotakan vertebrata dan avertebrata. Hayo, jangan sampai tertukar, ya!

Sistem 6 kingdom ini merupakan proses klasifikasi makhluk hidup yang kami kenal sampai sekarang. Tokoh yang mencetuskan proses ini bernama Thomas Cavalier-Smith. Sistem ini dikemukakan terhadap th. 2004. Anggota terhadap proses ini tidak cukup lebih sama seperti yang ada di proses 5 kingdom, hanya saja ada anggota baru yang disebut Archaebacteria. Wah! Ada teman baru lagi! Archaebacteria ini beranggotakan bakteri-bakteri yang mampu hidup di area ekstrim. Jagoan-jagoan ya kayaknya nih

Baca Juga :

Tingkatkan Pemahaman Siswa Tentang Pentingnya Sarapan

Tingkatkan Pemahaman Siswa Tentang Pentingnya Sarapan – Permasalahan gizi anak sekolah di Indonesia masih membutuhkan perhatian dari sekian banyak pihak.

Anak sekolah memerlukan energi yang besar guna masa perkembangan dan kegiatan sehari-hari.

Oleh sebab itu, mereka membutuhkan asupan nutrisi yang tepat untuk menolong masa perkembangan serta memaksimalkan proses pembelajaran.

Melihat pada kedudukan gizi anak Indonesia, Mondelez International melewati program Joy Schools berkomitmen guna memberdayakan anak sekolah untuk memungut langkah-langkah positif dalam mengawal kesejahteraan mereka.

“Dalam kurun masa-masa 2 tahun, program Joy Schools sudah sukses menambah pemahaman semua siswa SDN Bangka 03 Jakarta terhadap pentingnya sarapan sebesar 21 persen bila dikomparasikan tahun lalu,” kata Khrisma Fitriasari, Head of Corporate and Government Affairs Mondelez Indonesia di Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Dikatakannya, Joy Schools sebagai program kemitraan komunitas berfokus pada 3 area yaitu pendidikan nutrisi yang mengajarkan kelaziman sarapan pagi dengan menyerahkan makanan ekstra bergizi 3 kali dalam seminggu.

Kedua, akses pada makanan sehat dengan teknik mengajak semua siswa guna berkebun dan menempatkan tanaman segar di halaman sekolah sehingga semua siswa dapat mendapatkan guna dari berkebun.

“Ketiga ialah aktivitas jasmani yang mempromosikan pelbagai permainan kreatif melalui sekian banyak kreasi atau sumbangan alat-alat olah raga,” katanya.

Program Joy Schools berkolaborasi dengan Yayasan Emmanuel dan bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Kesehatan tingkat propinsi DKI Jakarta.

Program berkelanjutan dari Mondelez International ini sudah bermitra dengan 5 sekolah di 3 lokasi, yakni Jakarta (SDN Bangka 03, SDN Bangka 07, dan SDN Pancoran 08), Bandung (SDN Cigugur Tengah), dan Cikarang (SDN Wangun Harja 02).

Di Indonesia, program Joy Schools sudah melibatkan 247 karyawan sebagai relawan dengan total pekerjaan program menjangkau 1.011 jam.

Di samping di Indonesia, program Joy Schools sudah diimplementasikan di Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam serta memberikan akibat positif untuk 11.500 murid sekolah.

Terinspirasi dari program Joy Schools, kali ini KRAFT turut berpartisipasi melewati “KRAFT Berbagi Kreasi”, sebuah kegiatan digital oleh KRAFT yang mengonversi masing-masing resep yang diunggah menjadi 5 buah buku.

Sekitar 1.200 kitab akan disumbangkan guna anak sekolah dalam program Joy Schools.

“Kami bercita-cita program Joy School dapat mendapat respon yang baik serta memberikan akibat positif terhadap peningkatan kelaziman hidup sehat dan kedudukan gizi anak sekolah di Indonesia. Di masa depan kami optimis guna keberlanjutan program serta bisa bermitra dengan sekolah di distrik lainnya di Indonesia,” kata Khrisma.

Sumber: www.bahasainggris.co.id

Cara Membangun Pendidikan Yang Kompetitif

Cara Membangun Pendidikan Yang Kompetitif – Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat mengucapkan pandangan dan sikap reflektif, serta perkataan selamat untuk pemerintah dan masyarakat luas yang sekitar ini sudah dan masih terus mengabdikan diri dirinya di dunia pendidikan.

Tidak banyak warga bangsa secara personal yang tanpa pamrih di wilayah daerah pelosok mengasuh dengan hati dalam masa-masa yang panjang guna mencerdaskan dan mencerahkan anak-anak Indonesia. Tidak sedikit pun lembaga atau ormas-ormas keagamaan yang terus menambah dan memajukan pendidikan di Indonesia. Tidak ringan melaksanakan amanah dunia edukasi ini. Tantangan dan problem paling kompleks yang dihadapi dunia pendidikan. Karena itu, Komisi Pendidikan dan Kaderisasi mengucapkan apresiasi dan terima masih yang sebesar-besarnya untuk mereka seluruh yang sudah berjasa sebab dedikasinya yang tinggi dalam mengelola dan mengembangkan pendidikan.

Sesuai dengan pandangan hidup yang mesti dianut dan dipercayai oleh Bangsa Indonesia, maka Sila Pertama dari Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, mestilah menjadi sumber moral, filosofis dan ideologis yang menjiwai seluruh edukasi yang diadakan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Dengan demikian, semua program dan pekerjaan pendidikan yang tidak mengacu untuk nilai-nilai doktrin agama dan kepercayaan untuk Tuhan Yang Maha Esa jelas berlawanan dengan Pancasila.

Bangsa Indonesia ialah bangsa yang mempunyai kekayaan nilai-nilai luhur yang mengecat dan menyusun watak dan jati diri bangsa Indonesia. Nilai-nilai luhur ini pun telah mengecat sistim tindakan, kebiasaan, tradisi dan kebiasaan yang hidup, berkembang dan dijaga secara turun temurun oleh masyarakat. Karena tersebut nilai-nilai luhur ini pun telah menjadi unsur yang tidak terpisahkan dari kehidupan dan kebudayaan Indonesia.

Sehubungan dengan itu, edukasi nasional mestilah di anggap sebagai instrumen penting untuk upaya melestarikan, memperkokoh nilai-nilai luhur itu dalam rangka memperkuat dan memajukan kebudayaan dan kemajuan Indonesia. Karena itu, kesatu, edukasi haruslah dapat memberikan garansi kepada masyarakat luas bahwa nilai-nilai luhur bangsa Indonesia bakal senantiasa terjaga. Kedua, edukasi haruslah memiliki keterampilan untuk meyakinkan masyarakat bahwa nilai-nilai, kebudayaan dan filsafat hidup yang berasal dari luar (budaya transnasional) yang tidak cocok dan bahkan berlawanan dengan nilai dan jati diri bangsa Indonesia mestilah ditolak.

Pendidikan pun haruslah menjadi lokasi yang tepat guna mendorong dan mencetuskan generasi muda yang produktif, kompetitif, berjiwa merdeka/berdaulat, percaya diri dan berkepribadian luhur tidak silau dengan faham faham sekularisme, hedonisme, konsumerisme dan liberalisme. Melalui generasi muda terdidik laksana ini, maka diinginkan Indonesia bakal menjadi suatu bangsa dan negara besar dan disegani dengan kemajuan yang luhur.

Membaca dan mencari sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang panjang anda akan jumpai tidak sedikit pejuang dan pahlawan yang dengan sarat keyakinan, keteguhan, dedikasi tinggi dan sarat pengorbanan berusaha untuk kedaulatan dan kemerdekaan; spirit untuk menyerahkan yang terbaik untuk negeri sangatlah kuat dipunyai oleh semua pejuang. Memperhatikan masalah dan kendala besar yang dihadapi bangsa ini, maka edukasi haruslah adalah tempat yang paling tepat guna menyemai, menyuburkan dan memperkokoh nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme di kalangan generasi muda dan pendidik berkewajiban menjadi teladan dan sumber terpercaya untuk peserta didik.

Dalam kaitan di atas, maka mesti diyakinkan dengan betul-betul bahwa lembaga edukasi haruslah terbebaskan dari berbagai format penyelewengan, kriminalisasi dan tindakan-tindakan kekerasan lainnya. Salah satu masalah faktual besar yang berkembang dalam panggung kehidupan berbangsa ialah merajalelanya kelompok-kelompok yang nampak secara terus menerus tanpa rasa malu menggeronggoti dan membangkrutkan kekayaan dan merongrong ideologi bangsa yakni Pancasila.

Karena itu, lembaga edukasi haruslah benar-benar mempunyai elan vital yang kokoh bukan hanya untuk memajukan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni bakal tetapi pun membangun dan memperkokoh karakter. Tidak terdapat lagi perbuatan fitnah, bully, hoax, krimimalitas, pembohongan, penipuan, korupsi yang melibatkan civitas akademika lembaga edukasi baik sebagai korban maupun sebagai pelaku.

Deras dan cepatnya pertumbuhan revolusi industri teknologi informasi dan komunikasi di era digital ini tidak dapat terbendung. Perubahan di sekian banyak bidang kehidupan terjadi dengan cepat dengan sekian banyak implikasinya baik negatif maupun positif. Disrupsi tidak dapat ditolak tergolong dalam bidang pendidikan. Melalui TIK yang semakin advanced, maka informasi dan sumber belajar bukan lagi berpusat untuk guru/pendidik.

Guru atau pendidik melulu akan menjadi di antara saja diantara sekian tidak sedikit sumber belajar yang dapat diakses secara bebas dan tersingkap kapan saja oleh generasi peserta didik. Oleh sebab itu, telah saatnya lembaga-lembaga pendidikan dapat segera memanfaatkan peradaban TIK bukan hanya untuk mengembangkan dan memajukan edukasi secara kelembagaan dan akademik, bakal tetapi pun untuk menyemai dan mengembangkan secara meluas nila-nilai keluhuran. Secara produktif dan inovatif lembaga-lembaga edukasi kita diinginkan tidak saja dapat menangkal negative desruption TIK (hoax, tampilan asusila, kelaziman bully, ujaran kebohongan, kriminalitas, pertentangan tergolong penyebaran paham-paham transnasional yang berlawanan dengan nilai luhur agama dan Pancasila) bakal tetapi pun berkemampuan tinggi memperkokoh karakter bangsa.

Sumber: www.sekolahan.co.id

Komponen dan Prinsip Pengembangan Kurikulum

Komponen dan Prinsip Pengembangan Kurikulum

Pengembangan Kurikulum
Pengembangan Kurikulum

Kurikulum memiliki lima komponen utama, yaitu : (1) tujuan; (2) isi/materi; (3) metode atau strategi pencapain tujuan pembelajaran; (4) organisasi kurikulum dan (5) evaluasi.
Tujuan

Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut:

• Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
• Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
• Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
• Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler; yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan.

 

Tujuan pembelajaran merupakan tujuan pendidikan yang lebih operasional, yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran dari setiap mata pelajaran. Pada tingkat operasional ini, tujuan pendidikan dirumuskan lebih bersifat spesifik dan lebih menggambarkan tentang “what will the student be able to do as result of the teaching that he was unable to do before” (Rowntree dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 1997). Tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan perilaku spesifik apa yang hendak dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran. Merujuk pada pemikiran Bloom, maka perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran pada tingkat operasional ini akan menentukan terhadap keberhasilan tujuan pendidikan pada tingkat berikutnya. Terlepas dari rangkaian tujuan di atas bahwa perumusan tujuan kurikulum sangat terkait erat dengan filsafat yang melandasinya.

 

Jika kurikulum yang dikembangkan menggunakan dasar filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme) sebagai pijakan utamanya maka tujuan kurikulum lebih banyak diarahkan pada pencapaian penguasaan materi dan cenderung menekankan pada upaya pengembangan aspek intelektual atau aspek kognitif. Apabila kurikulum yang dikembangkan menggunakan filsafat progresivisme sebagai pijakan utamanya, maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada proses pengembangan dan aktualisasi diri peserta didik dan lebih berorientasi pada upaya pengembangan aspek afektif. Pengembangan kurikulum dengan menggunakan filsafat rekonsktruktivisme sebagai dasar utamanya, maka tujuan pendidikan banyak diarahkan pada upaya pemecahan masalah sosial yang krusial dan kemampuan bekerja sama. Sementara kurikulum yang dikembangkan dengan menggunakan dasar filosofi teknologi pendidikan dan teori pendidikan teknologis, maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada pencapaian kompetensi.

 

Isi / Materi Pembelajaran

Dalam menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar tidak lepas dari filsafat dan teori pendidikan dikembangkan. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pengembangan kurikulum yang didasari filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme) penguasaan materi pembelajaran menjadi hal yang utama. Dalam hal ini, materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk :
• Teori; seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan – hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.
• Konsep; suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan, merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.
• Generalisasi; kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
• Prinsip; yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep.
• Prosedur; yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik.
• Fakta; sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari terminologi, orang dan tempat serta kejadian.
• Istilah, kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi.

 

• Contoh/ilustrasi, yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat.
• Definisi:yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam garis besarnya.
• Preposisi, yaitu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.
Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat progresivisme lebih memperhatikan tentang kebutuhan, minat, dan kehidupan peserta didik. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat konstruktivisme, materi pembelajaran dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tema-tema dan topik-topik yang diangkat dari masalah-masalah sosial yang krusial, misalnya tentang ekonomi, sosial bahkan tentang alam. Materi pembelajaran yang berlandaskan pada teknologi pendidikan banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja untuk mendukung penguasaan suatu kompetensi.
Terlepas dari filsafat yang mendasari pengembangan materi, Nana Syaodih Sukamadinata (1997) mengetengahkan tentang sekuens susunan materi pembelajaran, yaitu :
• Sekuens kronologis; susunan materi pembelajaran yang mengandung urutan waktu.
• Sekuens kausal; susunan materi pembelajaran yang mengandung hubungan sebab-akibat.
• Sekuens struktural; susunan materi pembelajaran yang mengandung struktur materi.

 

• Sekuens logis dan psikologis; sekuensi logis merupakan susunan materi pembelajaran dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan, dari yang sederhana menuju kepada yang kompleks. Sedangkan sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan menuju bagian-bagian, dan dari yang kompleks menuju yang sederhana. Menurut sekuens logis materi pembelajaran disusun dari nyata ke abstrak, dari benda ke teori, dari fungsi ke struktur, dari masalah bagaimana ke masalah mengapa.
• Sekuens spiral ; susunan materi pembelajaran yang dipusatkan pada topik atau bahan tertentu yang populer dan sederhana, kemudian dikembangkan, diperdalam dan diperluas dengan bahan yang lebih kompleks.
• Sekuens rangkaian ke belakang; dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah akhir dan mundur kebelakang. Contoh pemecahan masalah yang bersifat ilmiah, meliputi 5 langkah sebagai berikut : (a) pembatasan masalah; (b) penyusunan hipotesis; (c) pengumpulan data; (d) pengujian hipotesis; dan (e) interpretasi hasil tes.
• Dalam mengajarnya, guru memulai dengan langkah (a) sampai (d), dan peserta didik diminta untuk membuat interprestasi hasilnya (e). Pada kasempatan lain guru menyajikan data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c) dan peserta didik diminta untuk mengadakan pengetesan hipotesis (d) dan seterusnya.
• Sekuens berdasarkan hierarki belajar; prosedur pembelajaran dimulai menganalisis tujuan-tujuan yang ingin dicapai, kemudian dicari suatu hierarki urutan materi pembelajaran untuk mencapai tujuan atau kompetensi tersebut. Hierarki tersebut menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik, berturut-berturut sampai dengan perilaku terakhir.

Metode atau strategi pencapain tujuan

Metode dan teknik pembelajaran yang digunakan pada umumnya bersifat penyajian (ekspositorik) secara massal, seperti ceramah atau seminar. Selain itu, pembelajaran cenderung lebih bersifat tekstual. Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut menurut kalangan progresivisme, yang seharusnya aktif dalam suatu proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mendapat dukungan dari kalangan rekonstruktivisme yang menekankan pentingnya proses pembelajaran melalui dinamika kelompok. Pembelajaran cenderung bersifat kontekstual, metode dan teknik pembelajaran yang digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian dari guru tetapi lebih bersifat individual, langsung, dan memanfaatkan proses dinamika kelompok (kooperatif), seperti : pembelajaran moduler, obeservasi, simulasi atau role playing, diskusi, dan sejenisnya.

 

Sumber : https://www.ayoksinau.com/

Pemimpin sebagai Agen Perubahan

Pemimpin sebagai Agen Perubahan

Pemimpin

Layaknya seorang menejer sebuah tim sepak bola ataupun seekor pemimpin belalang, seorang pemimpin organisasi perlu memikirkan bagaimana melakukan perubahan baik secara internal maupun eksternal agar strategi dan kebijakan yang diambilnya sesuai dengan tuntutan lingkungan yang senantiasa berubah. Pemimpin seperti ini oleh Burns (1978) disebut sebagai pemimpin transformasional (Transformational Leadership) atau disebut juga pemimpin penerobos atau breakthrough leadership (Sarros dan Butchatsky, 1996). Karakteristik utama pemimpin transformasional ini diantaranya memiliki kemampuan untuk bertindak sebagai agen perubahan (agent of change) bagi organisasi, sehingga dapat menciptakan strategi-strategi baru dalam mengembangkan praktik-praktik organisasi yang lebih relevan.

 

Bass dan Avolio (1994) mengemukakan empat dimensi kepemimpinan transformasional:

  1. Dimensi pertama, idealized influence (pengaruh ideal). Artinya, pola perilaku seorang pemimpin harus menjadi suri tauladan bagi para pengikutnya, tutur katanya harus sesuai dengan perbuatannya alias tidak munafik. Pemimpin seperti ini biasanya akan dikagumi, dihormati dan dipercayai oleh para bawahannya. Sebetulnya dimensi ini tidak aneh bagi kita, sebab sudah sejak lama kita mengenal dimensi ini, yakni apa yang disebut dengan prinsip “Ing ngarso sung tulodo.” Yang aneh justru mengapa para pemimpin kita apapun jabatannya, siapapun orangnya dan di manapun ia memimpin, nampaknya sulit sekali merubah dirinya menjadi pemimpin yang bisa ditauladani. Mungkinkah pemimpin kita sama dengan seekor belalang?
  2. Dimensi kedua, inspirational motivation (motivasi inspirasi). Dalam dimensi ini, seorang pemimpin harus mampu bertindak sebagai pencipta semangat kelompok atau tim dalam organisasi, memperlihatkan komitmen yang tinggi terhadap tujuan organisasi dan mampu mengartikulasikan pengharapan (expectation) yang jelas atas kinerja bawahan.
  3. Dimensi ketiga, disebut intellectual stimulation (stimulasi intelektual). Dimensi ini mengandung makna bahwa seorang pemimpin harus mampu berperan sebagai penumbuhkembang ide-ide yang kreatif sehingga dapat melahirkan inovasi, maupun sebagai pemecah masalah (problem solver) yang kreatif sehingga dapat melahirkan solusi terhadap berbagai permasalahan yang muncul dalam organisasi. Dimensi kedua dan ketiga ini dapat disebut sebagai “Ing madyo mangun karso” dalam “budaya” kita. Mudahan para pemimpin kita bertindak sebagai “Ing madyo mangun karso?” Kenyataannya tim PSSI kalah telak oleh tim sepak bola Lebanon.
  4. Dimensi yang keempat adalah individualized consideration (konsiderasi individu). Artinya, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan berhubungan dengan bawahan (human skill), mau mendengarkan, memperhatikan aspirasi dari bawah terutama kaitannya dengan pengembangan karier bawahan. Tut Wuri Hadayani.

 

Keempat dimensi kepemimpinan sebagai agen perubahan di atas, dapat menjadi suatu kekuatan atau energi yang dapat menggerakkan, memelihara keseimbangan dan mempertahankan organisasi sekalipun organisasi dihadapkan kepada situasi transisi, kritis, bahkan kemunduran. Jika keempat dimensi ini terus dipertahankan secara konsisten dan disepakati sebagai suatu nilai-nilai, asumsi ataupun kepercayaan oleh seluruh anggota organisasi, maka akan terbentuk apa yang dinamakan budaya organisasi (corporate culture).

Budaya Sebagai Energi Organisasi

Kembali kepada kekalahan tim PSSI, seorang pengamat sepak bola berkomentar, “sebetulnya kualitas pemain kita tidak jauh berbeda dengan para pemain Lebanon, perbedaannya hanya terletak pada kekuatan dan kecepatan pemain kita yang berada di bawah pemain Lebanon.” Komentar yang sangat logis. Karena itu, tidak mungkin seekor belalang merubah dirinya menjadi seekor jangkrik.

Mencermati fenomena kehidupan organisasi sekarang ini, apapun bentuknya, siapapun pemiliknya dan di manapun organisasi itu berada nampaknya tidak lepas dari dimensi kultural dan dimensi manusia sebagai aktornya. Sayangnya, seringkali strategi dan kebijakan organisasi sekarang ini terlalu menitikberatkan kepada dimensi struktural yang bersifat jangka pendek dan mengesampingkan dimensi kultural (budaya) organisasi yang bersifat jangka panjang. Akibatnya organisasi seringkali kehilangan energi, lesu dan tidak berdaya mengantisipasi perubahan lingkungan yang tidak hanya kompleks tetapi juga sangat cepat.

Perhatian terhadap organisasi dari sudut pemahaman budaya, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebetulnya bukan hal baru. Hal ini sudah berkembang sejak para ilmuwan sosial mempelajari organisasi. Pada 1930-an, Elton Mayo menggunakan istilah norma kelompok, Trice et al. (1969) mengemukakan karya tulisnya yang berjudul Ceremonials in Organizational Behavior yang kira-kira sama atau berkaitan dengan pengertian budaya. Namun demikian perhatian yang tinggi terhadap konsep budaya organisasi baru mulai  akhir 1970-an dan awal 1980-an, dimana pada masa itu muncul kebutuhan untuk mengkaji dan meneliti tentang sumbangan pendekatan budaya pada teore organisasi secara  mendalam. Intinya adalah apa dan bagaimana budaya sebagai suatu pendekatan dapat memberikan penjelasan (explanation), pemahaman (understanding), prediksi (prediction), dan pengendalian (control) terhadap fenomena kehidupan organisasi.

Munculnya perhatian yang tinggi terhadap konsep budaya organisasi tampaknya dilatarbelakangi oleh rasa kecewa para ahli terhadap teore-teore rasional (objektif) dalam meramalkan perilaku. Teore-teore tersebut dipandang hanya menjelaskan kulit luar organisasi tetapi tidak menyinggung jiwa organisasi (aspek simbolik di dalam organisasi). Reaksi terhadap teore-teore rasional tradisional akhirnya mendorong suatu perubahan ke arah konsep budaya. Namun demikian, pendekatan kebudayaan tidak dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi objektifistik, positifistik, dan fungsionalistik dalam teore organisasi dan menejemen. Kehadirannya semata-mata sebagai pelengkap dalam rangka  memprediksi dan pengendalian organisasi disamping pendekatan yang ada selama ini. Pertanyaan yang muncul adalah, Betulkah budaya dapat menjadi energi (kekuatan) bagi keberhasilan organisasi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut marilah kita awali dengan pengertian budaya organisasi.


Sumber : https://ngelag.com/

 

Memacu Pertumbuhan Pendidikan Robotika di Indonesia

Memacu Pertumbuhan Pendidikan Robotika di Indonesia

Sinarmas World Academy (SWA) menjadi tuan rumah persaingan kesatu First Lego League (FLL) di Indonesia (25/8/2018). Event kali kesatu di Indonesia ini menyuruh generasi muda anak bangsa beranggapan layaknya seorang ilmuwan dan berpengalaman teknologi.

For Inspiration & Recognition of Science & Technology (FIRST) Lego League telah diadakan di 98 negara dan dibuntuti lebih dari 320.000 peserta.

1. Praktek pembelajaran STEM

Kompetisi yang bertujuan menajamkan kreatifitas anak bangsa ini terdiri dari sejumlah kategori, mulai dari merangkai Lego (Creativity level), mendesain mekanika bergerak (Construction level), sampai kategori robotika (Robotics level).

Di dalam kelompok robotika, terdapat sejumlah sub kategori, diantaranya ialah kategori FLL (FIrst Lego League) dan kelompok WRO (World Robot Olympiad) 2018 open exhibition dan regular competition yang konsentrasi pada mengembangkan kreatifitas anak.

Keseluruhan proses kompetisi diinginkan menjadi wadah terbaik anak mempraktekan edukasi “STEM” (Science, Technology, Engineering and Mathematics) atau integrasi dari subyek latihan sains, teknologi, kiat dan matematika.

Selain persaingan sains dan teknologi, diadakan juga persaingan nasional “U Art”, suatu lompetisi mengecat dan menggambar tingkat nasional dengan merealisasikan metode Accelerated Drawing Technique yang memungkinkan anak dapat menggambar dengan gampang dan cepat.

2. Robotika unsur kurikulum

Acara ini dimulai Prof Wardiman Djojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ke-20, periode 1993-1998 dan Karina Charlotte Mosgart, Deputy Head of Trade Danish Embassy.

Lebih dari 500 murid datang dari 21 kota di Indonesia mengekor kompetisi. “Kami pun sudah mengajar siswa-siswi SWA dalam pembelajaran robotika yang memang adalah www.pelajaran.id bagian dari kurikulum pembelajaran di SWA. Siswa-siswa kami turut serta di dalam lomba robotika kelompok FLL dan WRO,” ucap Haoken, guru SWA.

SWA merealisasikan pembelajaran robotika semenjak usia dini di sekolah. “Teknologi berkembang paling pesat dan urusan ini dapat disaksikan dari pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), tergolong pada robot, yang mulai memainkan tidak sedikit peran dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Kelly, guru SWA.

Hal senada dikatakan Sofia Humas SWA, “FLL membuka kesempatan untuk para murid terlibat dalam pekerjaan pembelajaran otentik di mana mereka merealisasikan skill abad ke-21 dalam urusan Creativity, Critical Thinking, Communication and Collaboration dalam kerangka STEM.”

3. Menuju lomba internasional

Robotik sebagai unsur dari pembelajaran BEST (Business, Engineering, Science and Technology) Pathways di SWA menyerahkan siswa peluang mengembangkan profil pembelajar termasuk empiris dan kemahiran yang bersangkutan dengan jurusan yang bakal mereka ambil di perguruan tinggi.

Dalam persaingan ini, kesebelasan ‘Roboknights’ siswa ruang belajar 5 dan 6 SWA sukses meraih penghargaan tertinggi Champion’s Award FLL. Hal ini sekaligus mengirimkan tim “Roboknights” SWA lolos ke kompetisi robotik selanjutnya, “The World Festival FIRST Lego League Championship” di Houston, Texas, Amerika Serikat, bulan April 2019.

Di samping itu, di kelompok regular WRO, siswa ruang belajar 6 SWA menemukan penghargaan “Robot Performance Award”, kumpulan di tingkat SMP menemukan “Robot Design Award”, dan murid tingkat SMA SWA memenangkan “Robot Programming Award”.

“Kami bercita-cita lebih tidak sedikit lagi generasi anak bangsa Indonesia yang mengekor lomba di bidang sains dan teknologi dan mengekor lomba di ajang internasional di lantas hari,” ujar Sofia.

LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN
LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN
BAB 1
LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

1.1 Pengertian Media Pembelajaran

Pengertian media mengarah pada sesuatu yang mengantar/meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. Media adalah segala bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi (AECT Task Force,1977:162) ( dalam Latuheru,1988:11).
Robert Heinich dkk (1985:6) mengemukakan definisi medium sebagai sesuatu yang membawa informasi antara sumber (source) dan penerima (receiver) informasi. Masih dari sudut pandang yang sama, Kemp dan Dayton (1985:3), mengemukakan bahwa peran media dalam proses komunikasi adalah sebagai alat pengirim (transfer) yang mentransmisikan pesan dari pengirim (sander) kepada penerima pesan atau informasi (receiver).

erold Kemp (1986) dalam Pribadi (2004:1.4) mengemukakan beberapa faktor yang merupakan karakteristik dari media, antara lain:

  1. Kemampuan dalam menyajikan gambar (presentation)
  2. Faktor ukuran (size); besar atau kecil
  3. Faktor warna (color): hitam putih atau berwarna
  4. Faktor gerak: diam atau bergerak
  5. Faktor bahasa: tertulis atau lisan
  6. Faktor keterkaitan antara gambar dan suara: gambar saja, suara saja, atau    gabungan antara gambar dan suara.
Istilah media disini dilihat dari segi penggunaan, serta faedah dan fungsi khusus dalam kegiatan/proses belajar mengajar, maka yang digunakan adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah semua alat (bantu) atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan maksud untuk menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber (guru maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini anak didik ataupun warga belajar). (Latuheru,1988:13).

1.2 Landasan Media Pembelajaran

1.2.1 Landasan Psikologis Media Pembelajaran

Landasan psikologis penggunaan media pembelajaran ialah alasan atau rasional mengapa media pembelajaran dipergunakan ditinjau dari kondisi pembelajar dan bagaimana proses belajar itu terjadi. Perubahan perilaku itu dapat berupa bertambahnya pengetahuan, diperolehnya ketrampilan atau kecekatan dan berubahnya sikap seseorang yang telah belajar.
Pengetahuan dan pengalaman itu diperoleh melalui pintu gerbang alat indera pebelajar karena itu diperlukan rangsangan (menurut teori Behaviorisme) atau informasi (menurut teori Kognitif), sehingga respons terhadap rangsangan atau informasi yang telah diproses itulah hasil belajar diperoleh.

Jean Piaget mengemukakan bahwa seseorang memiliki tingkatan berfikir sesuai dengan perkembangan usianya. Menurut Piaget perkembangan berfikir itu mulai tingkat sensori motor (0-2th), tingkat pra operasional (2-7th), tingkat operasional kongkrit (7-11th), dan tingkat operasi formal (11-ke atas). Manusia belajar melalui pergaulannya dengan lingkungannya. Dalam pengenalan lingkungan itu, pebelajar melalui tiga tahapan belajar, yaitu tingkat kongkrit, tingkat skematis dan tingkat abstrak.

1.2.2 Landasan Historis Media Pembelajaran

Yang dimaksud dengan landasan historis media pembelajaran ialah rational penggunaan media pembelajaran ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran. Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923. Yang dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada pebelajar.

Kemudian kosep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pebelajar melalui mata dan telinga. Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar Dale.
Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “audio visual communication” pada tahun 1950-an. Perkembangan berikutnya terjadi sekitar tahun 1952 dengan munculnya konsepsi “instructional materials” yang secara kosepsional tidak banyak berbeda dengan konsepsi sebelumnya. Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan konsepsi “instructional materials” adalah “teaching/ learning materials”, “learning resources”.

1.2.3 Landasan Teknologis Media Pembelajaran

Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
  1. Meningkatkan produktivitas pendidikan (Can make education more productive).
  2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education more individual).
  3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran (Can give instruction a more scientific base).
  4. Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
  5. Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more immediate).
  6. Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal).

1.2.4 Landasan Empirik Media Pembelajaran
Pebelajar yang memiliki gaya visual akan lebih mendapat keuntungan dari penggunaan media visual, seperti film, video, gambar atau diagram; sedangkan pebelajar yang memiliki gaya belajar auditif lebih mendapatkan keuntungan dari penggunaan media pembelajaran auditif, seperti rekaman, radio, atau ceramah guru.

TRI SATYA DAN DASA DHARMA

TRI SATYA DAN DASA DHARMA

TRI SATYA DAN DASA DHARMA
TRI SATYA DAN DASA DHARMA

Tri Satya

Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
1. Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjalankan pancasila.
2. Menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat
3. Menepati Dasa Dharma
Pengertiannya :
a. Tri Satya merupakan janj seorang Pramuka yang harus dtepat.
b. Pramuka berjanji dengan Tri Satya, dengan sepenuh kehormatannya dan ia selalu berusaha memenuhi janjinya itu demi kehormatannya semata.
c. Kewajiban kepada Tuhan, jelas ia harus memeluk suatu agama yang dinyakini. Segala ajarannya dilakukan dan segala larangannya dihindarkannya.
d. Kewajiban kepada negara, seorang Pramuka akan selalu berusaha menjunjung tinggi kehormatan dan kewibawaan negaranya (Indonesia) dengan jalan tunduk kepada undang-undang yang berlaku, menghormati benderanya, melaksanakan dasar negaranya menghayati lambang negaranya, mengakui pemerintahannya, dan menghayati lagu kebangsaannya.
e. Mengamalkan Pancasila, dengan jalan melaksanakan dan menjalankan tuntunan tingkah laku dalam ajaran P-4.
f. Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat, sudah dijelaskan dalam uraian Dasa Darma. Sedang mempersiapkan diri untuk membangun masyarakat, seorang penggalang harus mencari ilmu di sekolah dan pengetahuan di masyarakat agar kelak setelah dewasa ia menjadi manusia yang berguna. Segala ketrampilan ia pelajari sebaik-baiknya untuk persiapannya dikemudian hari.


Dasa Darma pramuka

Setiap anggota Gerakan Pramuka wajib memahami isi
dan makna Dasa Darma Pramuka yang merupakan ketentuan moral. Dalam
kegiatan Pramuka di tingkat gugus depan, Dasa Darma menjadi materi
wajib di setiap tingkatan, baik penggalang, ramu, rakit, dan terap.
KALAU dilihat dari isi materi tersebut, ternyata
Dasa Darma memiliki nilai kandungan dalam diri manusia sebagai pribadi
manusia seutuhnya. Metode penghafalan materi tersebut dalam kegiatan
Pramuka sudah banyak yang diperkenalkan oleh para pembina, dengan cara
tersendiri.
Penulis pun sebagai pembina di lapangan memiliki
cara atau pedoman agar siswa dapat menghafal Dasa Darma Pramuka dengan
mudah. Pedoman itu adalah Ta-Ci-Pa-Pat-Re-Ra-He-Di-Ber-Su.
Dasa Darma Pramuka itu
1. Ta: Takwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Sebagai
pribadi yang lemah, kita harus menyembah Tuhan YME. Dia adalah pencipta
yang ada di bumi dan di langit dan segala makhluk yang terlihat maupun
tidak terlihat. Sebagai pribadi lemah dan ciptaan-Nya, kita wajib
menjalankan perintah-Nya. Contohnya, sebagai muslim mengerjakan salat
lima kali sehari semalam, membaca Alquran, puasa, dan lain-lain.
2. Ci: Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
Selain sebagai makhluk pribadi, kita juga sebagai makhluk sosial.
Artinya, makhluk yang tidak bisa berdiri sendiri. Kita perlu teman,
bergaul, bertetangga. Kita tidak bisa hidup tanpa orang lain, kita
memerlukan bantuan orang lain.
3. Pa: Patriot yang sopan dan ksatria. Sebagai
Pramuka, kita harus berperilaku yang sopan. Tindak-tanduk dalam
bersikap dan bertutur kata mesti diperhatikan. Kesopanan melambangkan
pribadi seseorang di tengah-tengah pergaulan dalam masyarakat.
4. Pat: Patuh dan suka bermusyawarah. Dalam situasi
dan kegiatan apa pun, anggota Pramuka wajib taat dan patuh terhadap
aturan yang berlaku, dan dalam kegiatan Pramuka selayaknya
bermusyawarah dalam mengambil keputusan terbaik dan memuaskan.


5. Re: Rela menolong dan tabah. Pramuka senantiasa
rela dalam menolong tanpa membedakan agama, warna kulit, suku, dan
sebagainya, dan harus didasari oleh hati yang ikhlas, tulus, tanpa
diembel-embeli oleh sikap ingin dipuji. Dalam setiap perjuangan itu
seorang anggota Pramuka harus tabah menghadapi gangguan, tantangan,
halangan, dan hambatan.
6. Ra: Rajin, terampil, dan gembira. Anggota Pramuka
itu harus rajin melakukan sesuatu yang positif. Kegiatan ketika ia
berada dalam pembinaan Pramuka harus diimplementasikan dalam kegiatan
sehari-hari. Jangan rajin karena waktu penggodokan dalam kegiatan,
tetapi harus dibuktikan ketika ia di rumah, di sekolah. Dalam
melaksanakan kegiatan itu pun harus dilaksanakan dengan senang dan
gembira.
7. He: Hemat, cermat, dan bersahaja. Ada ungkapan
yang mengatakan “hemat pangkal kaya”. Betul sekali dengan berhemat,
tidak menghambur-hamburkan uang untuk jajan, tidak berhura-hura untuk
kepentingan sesaat merupakan awal menjadi orang kaya. Pramuka harus
cermat dalam pengeluaran uang, memprioritaskan apa yang harus dibeli
atau didahulukan, dan mana yang tidak perlu janganlah dibeli. Meskipun
ia kaya, seorang Pramuka jangan sombong di depan orang lain, jangan
angkuh, bersahaja dalam bergaul.


8. Di: Disipilin, berani, dan setia. Anggota Pramuka
harus hidup dengan disiplin, baik dalam waktu belajar di sekolah,
bermain, dan sebagainya. Kalau Pramuka seperti itu maka hidup tak akan
percuma, tetapi akan berguna dalam mencapai cita-cita. Anggota Pramuka
harus berani karena benar, tetapi takut karena salah. Jangan berani
karena kesalahan, beranilah karena kebenaran. Pramuka harus setia
terhadap janji setianya karena itulah nilai-nilai luhur pribadi manusia.
9. Ber: Bertanggung jawab dan dapat dipercaya.
Setiap anggota Pramuka harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah
ia perbuat, jangan lari, jangan lempar batu sembunyi tangan. Ia harus
konsekuen karena ini adalah modal dari kepercayaan terhadap kita.
10. Suc: Suci dalam pikiran, perkataan, dan
perbuatan. Inilah pribadi manusia yang sejati, bersih pikiran, tidak
ada iri dan dengki.
Jika semua anggota Pramuka memahami itu semua, insya
Allah ia akan menjadi pribadi yang tangguh, bermanfaat bagi diri
sendiri, bangsa, dan negara.


Sumber : www.gurupendidikan.co.id