Cara Membangun Pendidikan Yang Kompetitif

Cara Membangun Pendidikan Yang Kompetitif – Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat mengucapkan pandangan dan sikap reflektif, serta perkataan selamat untuk pemerintah dan masyarakat luas yang sekitar ini sudah dan masih terus mengabdikan diri dirinya di dunia pendidikan.

Tidak banyak warga bangsa secara personal yang tanpa pamrih di wilayah daerah pelosok mengasuh dengan hati dalam masa-masa yang panjang guna mencerdaskan dan mencerahkan anak-anak Indonesia. Tidak sedikit pun lembaga atau ormas-ormas keagamaan yang terus menambah dan memajukan pendidikan di Indonesia. Tidak ringan melaksanakan amanah dunia edukasi ini. Tantangan dan problem paling kompleks yang dihadapi dunia pendidikan. Karena itu, Komisi Pendidikan dan Kaderisasi mengucapkan apresiasi dan terima masih yang sebesar-besarnya untuk mereka seluruh yang sudah berjasa sebab dedikasinya yang tinggi dalam mengelola dan mengembangkan pendidikan.

Sesuai dengan pandangan hidup yang mesti dianut dan dipercayai oleh Bangsa Indonesia, maka Sila Pertama dari Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, mestilah menjadi sumber moral, filosofis dan ideologis yang menjiwai seluruh edukasi yang diadakan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Dengan demikian, semua program dan pekerjaan pendidikan yang tidak mengacu untuk nilai-nilai doktrin agama dan kepercayaan untuk Tuhan Yang Maha Esa jelas berlawanan dengan Pancasila.

Bangsa Indonesia ialah bangsa yang mempunyai kekayaan nilai-nilai luhur yang mengecat dan menyusun watak dan jati diri bangsa Indonesia. Nilai-nilai luhur ini pun telah mengecat sistim tindakan, kebiasaan, tradisi dan kebiasaan yang hidup, berkembang dan dijaga secara turun temurun oleh masyarakat. Karena tersebut nilai-nilai luhur ini pun telah menjadi unsur yang tidak terpisahkan dari kehidupan dan kebudayaan Indonesia.

Sehubungan dengan itu, edukasi nasional mestilah di anggap sebagai instrumen penting untuk upaya melestarikan, memperkokoh nilai-nilai luhur itu dalam rangka memperkuat dan memajukan kebudayaan dan kemajuan Indonesia. Karena itu, kesatu, edukasi haruslah dapat memberikan garansi kepada masyarakat luas bahwa nilai-nilai luhur bangsa Indonesia bakal senantiasa terjaga. Kedua, edukasi haruslah memiliki keterampilan untuk meyakinkan masyarakat bahwa nilai-nilai, kebudayaan dan filsafat hidup yang berasal dari luar (budaya transnasional) yang tidak cocok dan bahkan berlawanan dengan nilai dan jati diri bangsa Indonesia mestilah ditolak.

Pendidikan pun haruslah menjadi lokasi yang tepat guna mendorong dan mencetuskan generasi muda yang produktif, kompetitif, berjiwa merdeka/berdaulat, percaya diri dan berkepribadian luhur tidak silau dengan faham faham sekularisme, hedonisme, konsumerisme dan liberalisme. Melalui generasi muda terdidik laksana ini, maka diinginkan Indonesia bakal menjadi suatu bangsa dan negara besar dan disegani dengan kemajuan yang luhur.

Membaca dan mencari sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang panjang anda akan jumpai tidak sedikit pejuang dan pahlawan yang dengan sarat keyakinan, keteguhan, dedikasi tinggi dan sarat pengorbanan berusaha untuk kedaulatan dan kemerdekaan; spirit untuk menyerahkan yang terbaik untuk negeri sangatlah kuat dipunyai oleh semua pejuang. Memperhatikan masalah dan kendala besar yang dihadapi bangsa ini, maka edukasi haruslah adalah tempat yang paling tepat guna menyemai, menyuburkan dan memperkokoh nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme di kalangan generasi muda dan pendidik berkewajiban menjadi teladan dan sumber terpercaya untuk peserta didik.

Dalam kaitan di atas, maka mesti diyakinkan dengan betul-betul bahwa lembaga edukasi haruslah terbebaskan dari berbagai format penyelewengan, kriminalisasi dan tindakan-tindakan kekerasan lainnya. Salah satu masalah faktual besar yang berkembang dalam panggung kehidupan berbangsa ialah merajalelanya kelompok-kelompok yang nampak secara terus menerus tanpa rasa malu menggeronggoti dan membangkrutkan kekayaan dan merongrong ideologi bangsa yakni Pancasila.

Karena itu, lembaga edukasi haruslah benar-benar mempunyai elan vital yang kokoh bukan hanya untuk memajukan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni bakal tetapi pun membangun dan memperkokoh karakter. Tidak terdapat lagi perbuatan fitnah, bully, hoax, krimimalitas, pembohongan, penipuan, korupsi yang melibatkan civitas akademika lembaga edukasi baik sebagai korban maupun sebagai pelaku.

Deras dan cepatnya pertumbuhan revolusi industri teknologi informasi dan komunikasi di era digital ini tidak dapat terbendung. Perubahan di sekian banyak bidang kehidupan terjadi dengan cepat dengan sekian banyak implikasinya baik negatif maupun positif. Disrupsi tidak dapat ditolak tergolong dalam bidang pendidikan. Melalui TIK yang semakin advanced, maka informasi dan sumber belajar bukan lagi berpusat untuk guru/pendidik.

Guru atau pendidik melulu akan menjadi di antara saja diantara sekian tidak sedikit sumber belajar yang dapat diakses secara bebas dan tersingkap kapan saja oleh generasi peserta didik. Oleh sebab itu, telah saatnya lembaga-lembaga pendidikan dapat segera memanfaatkan peradaban TIK bukan hanya untuk mengembangkan dan memajukan edukasi secara kelembagaan dan akademik, bakal tetapi pun untuk menyemai dan mengembangkan secara meluas nila-nilai keluhuran. Secara produktif dan inovatif lembaga-lembaga edukasi kita diinginkan tidak saja dapat menangkal negative desruption TIK (hoax, tampilan asusila, kelaziman bully, ujaran kebohongan, kriminalitas, pertentangan tergolong penyebaran paham-paham transnasional yang berlawanan dengan nilai luhur agama dan Pancasila) bakal tetapi pun berkemampuan tinggi memperkokoh karakter bangsa.

Sumber: www.sekolahan.co.id