Mengatasi Stres pada Anak

Mengatasi Stres pada Anak

Table of Contents

Mengatasi Stres pada Anak

Stres sanggup menyerang siapa saja, tidak hiraukan usia dan type kelamin. Stres merupakan sebuah suasana ketika seorang individu terasa tidak sanggup memenuhi tuntutan besar yang dibebankan kepadanya. Tekanan tersebut sanggup berasal berasal dari orang lain, lingkungan, ataupun diri kita sendiri. Stres sanggup terhitung terjadi karena ketidakmampuan beradaptasi bersama lingkungan. Awal stres sanggup bersumber berasal dari rasa tidak berarti, rasa tidak berdaya, sampai rasa terpisah berasal dari orang yang dicintai.

Mengatasi Stres pada Anak

Akibat adanya suatu tekanan berasal dari luar dirinya, individu dapat mengusahakan mengatasinya untuk capai suasana seimbang/homeostatis. Bila gagal, ia dapat merasakan suasana psikologi dan fisik yang tidak menggembirakan (stres). Bagi anak-anak, lebih dari satu perihal yang sering menyebabkan anak stres andaikata adalah suasana keluarga (orangtua, perceraian, pola asuh) dan lingkungan sekolah ataupun lingkungan tempatnya bermain.

Stres pada anak

Stres tidak seutuhnya berarti negatif. Stres sanggup mendukung anak mengembangkan keterampilan yang mereka butuhkan untuk beradaptasi bersama suasana dan juga lingkungan baru dan mengasah keterampilan mereka didalam mengatasi masalah. Dukungan berasal dari orang tua dan bagian keluarga lainnya terlampau dibutuhkan anak-anak untuk belajar bagaimana merespon stres bersama langkah yang sehat secara fisik dan psikologis.

Jika tidak dikelola bersama baik, stres dapat menjadi stres negatif. Oleh karena itu, bagi teman-teman pembaca 1000guru yang berperan sebagai kakak yang mempunyai adik, atau mungkin telah menikah dan saat ini menjadi calon orang tua, mari kita kenali gejala-gejala stres yang mungkin menjangkiti anak-anak. Dengan demikian, mudah-mudahan kita sanggup mendukung mereka meredakan stresnya dan menjadikannya sebagai stres yang positif.

Pada anak 0-5 th. gejala stres di antaranya:

Mengisolasi diri (menarik diri) berasal dari anak-anak lain.
Mudah gelisah, gampang tersinggung, lesu, malas, atau agresif.
Tantrum dan sering menangis.
Pertumbuhan badan kurang.
Regresi (mengalami kemunduran) berasal dari tahapan perkembangan sebelumnya. Misalnya, biasanya tidak mengompol menjadi sering mengompol
Duduk/berdiri di sudut tertentu.
Menggigit pakaian atau menggigit jari.
Malu tanpa alasan, takut.
Murung, mimpi buruk.
Sementara itu, pada anak usia 6-10 th. gejala stres di antaranya adalah sering menangis, tidak berkenan sekolah, murung, berani berbohong, terlampau aktif, senang berkelahi, tidur terganggu, menginginkan kabur berasal dari rumah, sukar mengalah, dan banyak mengeluh.

Anak kadang waktu belum sanggup mengungkap apa yang dia rasakan, namun apa yang terjadi padanya sanggup nampak berasal dari tabiat sehari-hari. Salah satu perihal yang perlu adalah mengamati perubahan tabiat atau tradisi anak. Sebagai contoh, seorang anak yang ramah dan pendiam tiba-tiba menjadi senang berdebat bersama teman-temannya. Kemungkinan nampak tabiat tersebut karena dia tengah mengalami stres. Jika tidak diatasi, stres pada anak sanggup berakibat jelek pada perkembangan anak selanjutnya.

Apa yang kudu kita lakukan?

Pertama yang kudu dikerjakan adalah menerima tabiat anak. Sebagai contoh, tidak ada gunanya memarahi anak ketika ia menghisap ibu jari. Memarahi tidak dapat menghentikan tabiat tersebut. Untuk menghentikannya dibutuhkan metode khusus, namun pada mulanya kudu selesaikan stresnya terutama dahulu. Anak dapat tetap menghisap jari ketika dia terasa stres dan tertekan. Itu merupakan caranya untuk meredakan kegelisahan dan ketakutan. Setelah sesaat menerima perilakunya, kita sanggup perlahan berkomunikasi dan memberikan masukan.

Contoh lainnya, ketika stres seorang anak yang tidak menginginkan makan sebaiknya tidak dipaksa untuk makan. Jika dipaksa, perihal itu tidak dapat berefek ia makan bersama baik. Ketika kita lihat tabiat yang tidak biasa (gejala stres muncul), kita kudu tetap dekat dengannya dan memberi kenyamanan kepadanya. Yakinkan, bahwa kita terlampau hiraukan dengannya.

Hal-hal yang sanggup mendukung anak mengelola stres, antara lain:

Bantulah anak bicara tentang apa yang mengganggu mereka.
Jangan memaksa mereka untuk berbicara, namun tawarkan peluang pada saat santai.
Tidak banyak mengkritik dan memarahi anak.
Membangun suasana tempat tinggal dan lingkungan yang hangat.
Mengajaknya beraktivitas fisik. Misalnya berlari di taman bersama orangtua ataupun kakak-kakaknya, mengajak jalan-jalan sembari bercerita.
Luangkan saat spesifik untuk menemani anak bermain/belajar, jalankan hal-hal yang disukainya.
Mendorong anak untuk makan sehat.
Ajarkan anak-anak bersama kalimat positif.
Berikan pelukan hangat. Hal ini sanggup meredakan stres pada anak.
Selain poin-poin di atas, kita sanggup terhitung mengajak anak bermain peran yang di dalamnya ada cerita tentang menghadapi stres. Bisa terhitung bersama mendongeng yang mengandung unsur edukasi. Sebagai contoh, kalau anak was-was bersama suasana baru, kita sanggup ceritakan kisah tentang bagaimana kita dulu terasa didalam suasana yang serupa dan apa yang kita jalankan untuk mengatasinya.

Penting terhitung untuk mengubah pola asuh yang menyebabkan stres pada anak. Secara umum, pola asuh orang tua terdiri berasal dari 3 macam:

Otoriter, orang tua tidak memberi anak kebebasan dan memaksa anak sehingga memenuhi tuntutan orang tua apalagi menganiaya anaknya.
Permisif, yakni orang tua terlampau melepaskan anaknya biarpun seorang anak belum sanggup menyebabkan ketetapan bersama tepat dan melepaskan kekeliruan anak.
Otoritatif, yakni orang tua memilih bersama tahu konsekuensi berasal dari tiap-tiap tindakan yang diambil, mereka tidak mengekang anak secara berlebihan terhitung tidak membebaskannya, namun konsisten memberi perhatian pada anak dan mengusahakan membentuk anak yang mandiri.
Pola asuh otoritatif adalah langkah yang paling baik untuk membentuk kepribadian anak. Stres sanggup terjadi pada anak andaikata dia terasa tidak sanggup memenuhi tuntutan orang tuanya (yang bersikap otoriter) ataupun karena dia kudu mengalami konsekuensi jelek akibat kekeliruan ketetapan yang diambilnya (karena orang tua terlampau permisif).

sumber : https://www.ruangguru.co.id/